Aku Tresno Suroboyo
Berlokasi di perumahan Pondok Tjandra Indah,secara administratif kami berada di wilayah Sidoarjo,tapi secara geografis lebih dekat ke Surabaya,jadi lebih enak nyebutnya masuk Surabaya aja
Dalam satu minggu ke depan, kami akan meninggalkan rumah yang (bagi kami) nyaman ini… Meski kepindahan kami ke Jakarta (insyaallah) akan membawa perbaikan dalam terapi Daffa,tapi tak urung hatiku bagai diremas juga karena sedih akan meninggalkan kota ini…
Dua tahun kurang satu bulan, itulah usia kehadiran kami di sini.
Berlokasi di perumahan Pondok Tjandra Indah,secara administratif kami berada di wilayah Sidoarjo,tapi secara geografis lebih dekat ke Surabaya,jadi lebih enak nyebutnya masuk Surabaya aja
. Bagiku,seorang pendatang, bermukim di sini sungguh banyak kenangan dan kemudahan.
Di sini aku pertama kali (lagi…)
& Komentar
“Halah!”
Halah,ga konsisten deh!
Juli 16, 2008, 7:32 am
Diarsipkan di bawah: think about...
Diarsipkan di bawah: think about...
Bukan buah-buahan aja yang ada musimnya. Ungkapan atau slogan juga. Belakangan ini sering sekali aku nemuin kata yang satu ini,baik di ruang chat dengan teman,atau langsung nyasar ke kupingku. “Halah!” Itulah dia…
Entah aku yang terlalu sok ‘alus’ atau gimana,tapi kata seru yang satu ini kurang nyaman terdengar di telingaku. Ini mengingatkanku pada kampung halamanku,dimana biasanya kata ini dipakai untuk mengungkapkan ketidaksetujuan,kejengkelan, kesuntukan,pengabaian, bahkan umpatan. Jadi bukan kata baru bagiku,sebenarnya…Dulu,nyaliku langsung ciut bila mamaku mulai kesal dan menyerukan,”Halah..halah!” bila ada yang tak berkenan di hatinya….
Barangkali sekarang tak sampai sekasar itu maksudnya,hanya kata seru biasa seperti “Aduh!”, “Oh” ,”Wow” dan sebagainya. Tapi tetap saja ada perasaan terganggu di hati ini,sama halnya bila ada orang yang memanggilku dengan sapaan “sampeyan”,padahal aku sudah hampir dua tahun menetap di Surabaya ini.
Apa telingaku terlalu tipis ya?
Barangkali hanya karena tidak terbiasa saja. Biasanya kalau aku sudah ‘berdamai’ dengan satu kata, lidahku yang tak bertulang ini akan latah dan mulai ikut-ikutan pula.
Halah,ga konsisten deh!
Ben:”Label yang menyesatkan”
Ben yang berusia dua tahun baru saja mendapat diagnosa Pervasive Developmental Disorder (PDD),dapat dipahami kedua orangtuanya,Sarah dan Mark,merasa bingung. Mereka membawa Ben untuk evaluasi lebih lanjut. Mula-mula Ben duduk dipangkuan ibunya,dengan punggung menghadap terapis,berpegang erat-erat kepada ibunya. Namun setelah lebih dari 15 menit,sedikit demi sedikit ia berpaling dan sembunyi-sembunyi memperhatikan terapis itu. Ia akan memutar kepalanya dengan cepat sewaktu terapis memandangnya.
Begitu Ben memandangnya lebih lama,terapis itu mulai berbicara dengan lembut,memanggil namanya dan dengan menunjukkan ekspresi wajah lucu. Ben pun balik tersenyum dengan ragu-ragu. Beberapa menit kemudian,Ben terkekeh-kekeh melihat wajah lucu terapis dan dengan malu-malu berpaling kepada Sarah dan merangkulnya disertai senyuman paling menggembirakan yang dapat diberikan seorang anak berusia dua tahun. Mark dan Sarah serta terapis masih berbicara selama beberapa menit,sementara Ben mengedarkan pandangannya seputar ruangan dengan rasa ingin tahu.
Setelah pertemuan itu berlangsung setengah jam,Ben turun dari pangkuan ibunya,meraih tangan ibunya dan menariknya. Sarah mengikuti Ben yang berjalan tertatih-tatih dan belum stabil ke arah pintu,memukuli pintu bertubi-tubi seraya menggeram-geram seakan menuntut. Ia ingin keluar! Dengan sabar,Sarah menjelaskan bahwa mereka harus menunggu sebentar lagi. Mendengar ini,Ben membanting tubuhnya ke lantai dan meninju lantai berulang-ulang. Ketika Mark mencoba mengangkatnya,ia meluapkan kemarahan yang hebat,menendang dan berteriak dengan frustasi. Sepuluh menit dalam bujukan dan dekapan orangtuanya,membantu menbuatnya diam. Ben menghabiskan sisa waktu pertemuan itu dengan bergelung diatas pangkuan ibuya,menolak menatap mata siapapun. (lagi…)
Pizza La Mertu
Resep ini sudah kudapatkan dari setahun yang lalu ketika mudik lebaran. Mama mertua bikin pizza yang ueenaaak tenan….,trus aku minta resepnya. Mama ngasih ke aku catatan resep tulisan tangannya. Dasar pemalas, alih-alih menyalin ke bukuku sendiri,aku malah foto kopi semua resepnya
Juli 5, 2008, 9:14 pm
Diarsipkan di bawah: acak-acak dapur
Diarsipkan di bawah: acak-acak dapur
Resep ini sudah kudapatkan dari setahun yang lalu ketika mudik lebaran. Mama mertua bikin pizza yang ueenaaak tenan….,trus aku minta resepnya. Mama ngasih ke aku catatan resep tulisan tangannya. Dasar pemalas, alih-alih menyalin ke bukuku sendiri,aku malah foto kopi semua resepnya
Mama senyum-senyum saja.
Dan bayangkan, udah mau mudik lagi beberapa bulan ke depan, aku baru nyobain itu resep Pizza. Ternyata bingung sendiri baca tulisan tangan mama, akhirnya aku “kursus” pizza via telpon…
BAHAN KULIT:
-
1/4 kg tepung cakra
-
2 sdm peres fermipan
-
1 sdt gula
-
1/2 sdt garam
-
100 cc air
-
1 sdm margarin
-
telur 2 butir
-
1 sdm susu bubuk
Wadduh,bagaimana ini??
Juli 5, 2008, 6:53 pm
Diarsipkan di bawah: think about...
Diarsipkan di bawah: think about...
Setiap orang yang menuju ke jenjang pernikahan,pasti mengalami pasang surut kemantapan hati. Setidaknya itu yang pernah dialami olehku dan juga oleh orang-orang terdekatku. Ada-ada saja masalahnya…Bagi yang akhirnya terlaksana juga pernikahannya,bisa dengan senyum simpul mengatakan,” Oh,dulu itu hanya ujian kebulatan tekad. Menikah itu kan pekerjaan baik, syetan pasti menghalangi-halangi orang yang berniat ibadah.”
Tapi entah apa yang dirasakan oleh akhwat yang satu ini. Sekarang ini hatinya sedang di dera gelisah dan dihantam kebimbangan yang membuatnya sangat tertekan. Ternyata baginya, menuju pernikahan adalah saat-saat terburuk dalam hidupnya….
Last day in Jakarta:”punya bahasa,tapi tak bisa komunikasi”




