Diarsipkan di bawah: Tentang Daffa | Tag: anak special needs, autism, sabar, Sekolah
Kemaren, akhirnya aku memantapkan hati untuk menemui pihak guru sekolah Daffa. Setelah maju mundur,mempertimbangkan baik buruknya, aku dan Uda, di kuatkan oleh pendapat terapisnya,memutuskan bahwa Daffa tidak lagi melanjutkan untuk bersekolah di situ.
Ketika menemui mereka, aku tidak mengatakan alasan utamanya. Yang aku katakan lebih kurang adalah Daffa belum mampu untuk mengikuti pelajaran dan pola di sana. Konsentrasinya masih gampang buyar, belum bisa komunikasi dua arah, belum ada bonding antara dia dengan guru juga teman-temannya, pola tidurnya yang larut malam,sehingga dia sering kesiangan,dan sebagainya.
Tapi masalah utamanya adalah,MENURUTKU, guru-gurunya tidak menampakkan minat yang cukup untuk meraihnya. Bahkan mungkin cenderung mengabaikan, yang tentu membuat hatiku sebagai ibunya tercabik rasanya. Beberapa teman-temannya pun tampak terganggu dengan tingkah Daffa yang tidak biasa, berlarian di kelas, tidak menurut, tertawa kegelian di saat yang lain diam menyimak guru, tidak menjawab ketika di tanya.
Sudah 3 bulan sekolah,tak satupun dari teman sekolahnya yang dikenal Daffa namanya. Padahal Daffa sudah mulai memasuki fase identifikasi, dia sudah mulai melabel orang, tapi tidak untuk teman sekelasnya. Entahlah kenapa.
Sedih memang.
Tapi aku dulu sudah diingatkan oleh terapisnya yang di SUrabaya, bahwa aku dan keluarga harus siap-siap. Siap untuk di tolak ketika Daffa memasuki usia sekolah. Dan,kurasa, itulah yang terjadi kini. Padahal Daffa kondisinya jauh lebih bagus dibanding ketika dia bersekolah di Sidoarjo dulu. Tapi guru dan staf sayang padanya, atau kasihan,atau apalah….Yang jelas, mereka menangani Daffa dari hati, dan itu memang sampai ke dalam hati….I miss that school a lot!
Beberapa hari yang lalu, aku nemu sebuah blog ibu-ibu yang berhasil membuat aku nangis bombay. Dia bercerita tentang anaknya yang mogok sekolah,dan usut punya usut,ternyata anaknya terganggu dengan seorang temannya yang autis, yang setiap kali dia datang ke sekolah, selalu menarik tanggan anaknya untuk di ajak ngobrol, dan anaknya bosan! Lalu dia mempertanyakan tentang kebijakan pemerintah yang membolehkan (atau mewajibkan ya? ) sekolah umum untuk menerima anak special needs. Katanya,” Mungkin itu memang bagus untuk anak autis, Untuk sosialisasinya dia. Tapi bagaimana dengan ANAK KAMI?Apalagi kalau dia sampai tertekan dan mogok sekolah! “
Di sinilah hatiku benar-benar seperti di remas, di plintir, dan tak kuat membendung tangis….
Ya Allah, sebegitu mengganggukah kehadiran anak autis??
Sebegitu burukkah mereka?
Apakah mereka tak layak untuk hidup layak?
Apakah mereka begitu hina untuk berdampingan dengan anak ‘normal’ lainnya???
Meski pada akhir cerita si Ibu berhasil memberi pengertian pada anaknya untuk memahami temannya, tapi tetap saja….hati yang sudah di tancapi paku, masih membekas lobangnya.
Dan kini, inilah tantangan berikutnya.
Memastikan dia mendapatkan pendidikan yang terbaik.
Di rumah maupun di sekolah.
Semoga.
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>





Hang in there ya Mba.. iA diberi jalan terbaik sama Yang Diatas.. Amiin
Komentar oleh Ade April 7, 2009 @ 8:12 pmMakasi Unie,amin….
Komentar oleh madaff April 8, 2009 @ 7:43 amduh, mama…
Komentar oleh marshmallow April 8, 2009 @ 8:36 ampedih hatiku membacanya.
tapi aku percaya kok daffa bisa melalui semuanya dengan baik.
seorang anak teman yang juga autis, setelah terapi yang sangat telaten dari ibunya sendiri, akhirnya berhasil bersosialisasi dengan sangat baik. bahkan tidak ketahuan kalau dulunya dia menderita autisme.
sabar ya ni Ade…
Komentar oleh Nurul April 8, 2009 @ 6:41 pmkeep fighting *wanna hug you*
where there is a special child, there always be a special teamwork, special parents…
Komentar oleh Ummu Dira April 13, 2009 @ 3:12 pmKeep the faith, Unie dan Uda……
special need person at special environmn
http://saciganjur.blogspot.com/2005/07/cerita-seto.html.
Komentar oleh ARman April 27, 2009 @ 8:13 pmAsslkm, Uni
gimana Daffa ?
smoga sehat smua kelg – amen
sudah baca link ttg seto ?
http://saciganjur.blogspot.com/2005/07/cerita-seto.html
Alhamduli4jj1 di SA Ciganjur (insy4jj1 akan diubah menjadi SAI-Sekolah Alam Indonesia dlm waktu dekat agar bisa dicopy-paste sistemnya di berbagai daerah) anak2 SN tdk menjadi beban bagi anak2 lainnya.
Mereka ikut semua kegiatan tanpa pengecualian dgn pengembangan karakter yg berbeda.
Komentar oleh ARman Juni 4, 2009 @ 2:47 pmada : Seto yg infonya pandai masak, Hasnah yg pintar menyulam, Abror dll
di Market Day terakhir mereka sudah punya booth utk display karya mereka
Hihihi, saya juga sudah sering ditolak untuk urusan sekolah ini, keep moving saja mbak
Komentar oleh Nana Agustus 28, 2009 @ 8:56 am