Posted in Uncategorized

Fafirruu ilallaah..

Oleh seorang sahabat: Ika aryani

“Bisa ga ya anak sy disembuhkan?”
“Aaaah… apa sih yg gak bisa buat Allah?”

Mungkin dialog spt inilah yg berkecamuk dlm hati kawan sy. Mereka, sepasang suami istri super sabar, dikaruniai Allah sebuah ujian: seorang anak dengan special needs.

Sy bertemu dengan anak itu. Seorang anak usia 10-11 tahun. Saat melihat teman-teman ortunya datang, si anak langsung menyambut. Ia sodorkan tangan, salim tangan, seulas senyum tersungging di bibirnya, sambil berucap, “assalamu’alaikum tante..”. Ramah sekali. Santun.

Sekilas tidak ada yg spesial dari dia. Dia tampak seperti anak kebanyakan. Ramah. Santun. Tapi bila anda mengenal anak ini sejak masa bayinya, mungkin anda akan tercengang. Kok bisa ya dia seramah itu?

Yup. Anak ini terlahir dengan gejala autisme.
Sebuah sindrom yg membuat anak jd terasing dari sekelilingnya. Sulit berkomunikasi. Apalagi mengharapkan mereka tersenyum dan menyapa duluan, itu rasanya mustahil.

Begitu pula anak ini. Saya ingat di masa balitanya, anak ini begitu “berbeda”. Ia sibuk sendirian, tidak melakukan kontak mata dengan oranglain, apalagi berkomunikasi. Ibunya susah payah menyuapinya makan dan berkomunikasi dengannya. Benar-benar dia ‘teralienasi’ dengan lingkungannya.
Lantas, bagaimana dia kini bisa berubah? Bagaimana mungkin dia kini punya kemampuan berkomunikasi yg sama baiknya dengan anak-anak biasa? Bagaimana cara si ibu merubahnya?

“Ah, itu semua Allah yg merubah mba”
Jawab si ibu.
But yes, she did struggle for him.

Sejak bayi, si ibu sudah wara wiri membawa anaknya terapi ke sana sini. Mulai jakarta sampai surabaya. Tak kurang 6 sekolah dijajal si ibu semenjak anaknya usia 2 tahun. Tapi sekolah-sekolah special needs tersebut tidak memberikan perbaikan apa2 buat anaknya. Justru malah membuatnya makin parah.

Sampai suatu ketika Allah tunjukkan ia pada sebuah sekolah istimewa. Sebuah sekolah yg sangat-sangat peduli pada perkembangan anak dan jiwanya. Jangan tanya berapa SPPnya ya. Pastinya muaaahall sangat. Untuk anak dengan special needs, SPPnya sampai melebihi UMR Jakarta saat ini. Dan itu biaya 6th lalu. Sangat mahal.

Tapi, Alhamdulillah, ternyata dari sekolah itulah jalan kesembuhan itu terbentang.

Untuk meringankan biaya, sekaligus demi belajar lebih banyak lagi tentang dunia anak, si ibu pun menjadi guru di sekolah itu. Sekolah ini mmg serius. Biaya mahalnya diinvestasikan balik untuk pendidikan para guru. Tak tanggung2, para ahli pendidikan dari amerika pernah diundang sekolah demi untuk mentraining para gurunya. Gak rugi jadi guru di sekolah ini. Ilmunya luarbiasa. Dan ilmu itulah yg diterapkan kawan sy pada anaknya yg autis.

Dan demikianlah, si anak bersekolah di sana sejak TKnya. Dan pelan2 perubahan itupun mulai tampak. Dia terdaftar sbg murid dengan ‘special needs’ di sekolah itu. Tapi lambat laun label ‘special needs’ itu mulai luntur. Ia mulai membaur spt biasa dengan anak2 lainnya. Ketika akhirnya ia pindah ke SD lain, ia pun masuk sbg siswa biasa. Bukan lagi siswa dengan catatan ‘special needs’. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksinya memang sudah sama dengan anak2 biasa. Subhanallah.

Saya perhatikan anak itu sepanjang acara.
Beneran. Ga ada gejala-gejala autisme sama sekali. Dia menyapa anak lain. Mengajaknya bermain, lalu mrk berdua pun main. Lalu ketika temannya lelah bermain, ia pun mencari kegiatan lain. Ia ambil buku, dan membaca. Bukunya bukan buku anak2 biasa lho. Tapi buku ttg siroh nabi dan sahabat. Dia membaca dengan antusias buku itu. Lepas membaca, ia ambil balok2 dan dirangkai jd mainan imajiner.
Aktif.

Subhanallah.
Beda sekali dengan masa balitanya. Sungguh.
Saya pernah dengar bahwa katanya autisme itu “tidak bisa disembuhkan”. Tapi nyatanya anak ini bisa.

Ternyata..
Memang di tangan Allah lah solusi segala masalah itu.

Teringat lagi pada seorang anak lain. Anak dari guru di sekolah.
Anak ini terlahir dengan kepala yg ‘hancur’. Kondisinya sungguh sangat mengerikan. Dibutuhkan operasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak ini. Saat itu, semua orangtua murid gotong royong mengumpulkan donasi buat bayi bu guru tsb. Dengam biaya sekian puluh juta, akhirnya operasi itu berhasil juga ditunaikan. Alhamdulillah.

Pasca operasi itu, sy berpikir, mgkn anak ini akan tumbuh sbg anak dengan ‘special needs’, mengingat betapa besar kerusakan otak yg dialaminya sewaktu lahir. Tapi ternyata tidak.

Beberapa tahun pasca operasi itu, sy berbincang dengan ibunya. Menanyakan ttg tumbuh kembang anaknya. Dan si ibu bercerita dengan penuh rasa syukur ttg anaknya. Si anak yg tumbuh normal. Tidak ada masalah perilaku atau masalah serius lainnya. Malah, ia tampak pintar. Sama pintarnya dengan anak2 lain. Wah, kok bisa?

“Ga tau bu. Semua ini mukjizat dari Allah. Beneran. Ini mukjizat. Sy juga ga menyangka anak saya bisa sama spt anak-anak lainnya”

Subhanallah.

Benar bu guru. Memang di tangan Allah lah segala jalan kesembuhan itu. Di tangan Allah pula kita bisa menitipkan jiwa-jiwa anak kita.

Tidak ada anak yg tidak bisa ‘sembuh’.
Baik itu sembuh dari masalah yg muncul sejak kelahiran,
Maupun sembuh dari masalah yg muncul dari pergaulan: Pornografi. Narkoba. Atau kecanduan gadget.
Bisa. Anak-anak bisa disembuhkan.

Kuncinya satu:
Mintalah pada DIA Sang pemilik segala kesembuhan.
Mintalah pada-Nya, untuk ditunjukkan jalan-jalan.

Dan jangan lupa,
Pada Allah lah kita titipkan jiwa-jiwa anak ini.

Jadi, bukan kesembuhan yg menjadi tujuan kita, tapi jiwa-jiwa anak yg tumbuh sesuai kehendak Allah, itulah tujuan kita.
Untuk itu… yg harus berubah pertama kali bukan dia. Bukan anak kita.

Tapi kitalah yg sebenarnya harus berubah.

Kembalilah pada Allah. Kembalilah pada Allah. Berlarilah menuju Allah.
Fafirruuu ilallaaah…

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. Ath-Thalaq : 2

================================

Tulisan ini ditulis oleh seorang teman di status fb nya,kisah pertama adalah  kesannya tentang Daffa, yg bliau kenal sejak bayinya hingga pra baligh spt sekarang ini…

Terima kasih Ika, sdh menuliskan dengan apik runtutan perjuangan itu. Setiap masa ternyata ada ujiannya.
Meski sepertinya Daffa sdh tidak menunjukkan gejala autistik lagi, tugas belumlah selesai….
Mendampingi anak pra baligh ternyata lebih jungkir balik, terutama karena kami masih miskin ilmu begini…
Namun tulisan ini sangat menentramkan hati, bahwa ada Allah pemilik segala jalan, bahwa sesudah kesulitan selalu ada kemudahan…

Tulisan Ika ini sengaja tidak aku Share di fb, selain karena aku malu (aku bukan orang tua yang sesukses itu), aku juga ingin menyimpannya disini, diantara bertahun-tahun kisah Daffa yang tercatat di sini…
Ini blog yang mati suri memang, karena entah bagaimana aku seperti kehabisan kata dalam tahun2 terakhir.
Berkutat dengan kegiatan harian, tak sempat menulis kesan. Dan sungguh, bisa menulis itu sebuah keberkahan
Semoga Allah memberkati orang orang yang dengan tulisannya mampu menggetarkan hati…

Dan tulisan yang satu ini, ditulis dengan kehangatan hati, penuh hikmah, menjadi pengingat bahwa pernah ada masa-masa sulit yang telah terlewati, dan akan ada lagi masa2 sulit di hari nanti, tapi yang pasti, selagi kau ikhtiar maksimal, berdoa maksimal,tak pernah lepaskan pegangan tanganmu pada tali Allah, maka tak ada yang perlu kau khawatirkan…
InsyaAllah.

Dan..
Hei bunda Daffa, setiap kali kau melihat anakmu bertindak tidak seperti yang kau harapkan dihari2 ini..
Ingatlah hari hari kemaren ketika kau berpikir, dia bisa memanggilmu “mama”  saja adalah segalanya bagimu…

Dont expect too much
But love him very much.

Posted in Hazza, Kayyisa

Yuk sholat

image

Bismillah…
Meski bunda belum konsisten ngajak kakak sholat, apalagi Hazza masih pecicilan, semoga anak2 bunda bisa jadi anak sholeh sholehah.. Aamiin

Bunda pe er nya banyak nih, moga2 bunda dan ayah bisa bimbing, kasih teladan dan menginspirasi anak2 untuk menjadi muslim yang taat dan manfaat.
Long way to go…
Not an easy way…
Tapi insyaAllah dengan seijin Allah, kami orang tua yang penuh kekurangan ini semoga sanggup menjadi orang tua yang amanah…
Aamiin

Posted in Hazza, Kayyisa

Welkamhom Kayyisa, and Yaumul Milad Hazza

Alhamdulillah akhirnya Kayyisa diijinkan pulang dengan status terakhir trombosit di angka 108.000
Sbnrnya berharap pulang lebih pagi, karena hasil cek darah pagi sdh ada peningkatan trombosit dari 68ribu ke 80an ribu.
Dr rastra sempat bilang, jk sdh ada kenaikan trombosit dengan minimal nilainya 50ribu, maka gapapa pulang. Karena insyaallah dirumah trombosit juga akan naik sesuai dg perjalanan penyakitnya. Jd aku udah ngebayangin bakalan pulang hari ini setidaknya pas siang.
Eh tapi bliau baru bisa visit jam 14an dan menganjurkan utk cek lagi jam 5 sore.
Jadi diundur pulangnya.
Karena aku optimis trombosit nya insyaallah pasti naik, aku urus aja dulu asuransi utk administrasi.
Alhamdulillah jam 7 keluar hasil, jam 8 udah bisa cao dari RS.

Dan badewey, hari ini milad Hazza ke 2….
Barakallahu fii umrik Hazza sayang….
Bunda sedang belajar untuk tidak membesar-besarkan hari kelahiran, karena pada dasarnya dalam agama kita tak ada perayaan-perayaan kelahiran spt ini…
Tapi Bunda selalu berdoa untuk semua anak-anak bunda, kapanpun, dimanapun, semoga tumbuh menjadi anak yang sholeh, santun dan bermanfaat.
Selamat memasuki tahun ke 3 dalam hidupmu ya sayang….
Semoga kegembiraan dan kebahagiaan selalu mengisi hari-harimu, aamiin

Oh ya si abang Daffa excited dengan adanya kesempatan menginap di RS spt ini. Sejak jumat malam sampe pulang hari Selasa ini, hanya di hari Minggu malam dia tak menginap di RS dengan alasan sekolah. Tapi sejak Senin, pulangnya langsung ke RS, diajak ayahnya pulang ke rumah, dia milih nginap. Sepertinya dia sedikit kecewa malam ini ternyata udah ga menginap lagi di RS Hahaha ada2 aja.

Seharian ini ga sempat moto anak2 terutama the birthday-boy, Hazza-chan.

Ini kuambil foto anak-anak yang sampe di rumah langsung tepar, bahkan Daffa ga mau pindah ke kamarnya 😂

image

Tinggal menunggu ayah pulang…
Dan komplit lah kita berkumpul lagi di rumah, insyaAllah.
Hari ini ayah ada ujian di kampus, sehingga ga bisa menjemput Kayyisa dari rumah sakit.

Posted in Kayyisa

Week end at rumkit, wakwaaaw

Sejak Selasa sore Kayyisa mulai demam. Ga begitu heran awalnya karena selama seminggu terakhir badai common cold lagi wara wiri di rumah.
Awalnya Hazza dulu yang demam, 2 hari saja, alhamdulillah virusnya kabur, tinggal batuk pilek yang ga terlalu mengganggu.
Trus minggu kemaren aku yang demam cukup tinggi selama 2 hari juga, sempat khawatir juga, tapi insyaAllah feeling ku juga cuma common cold. Cuma virusku ini lumayan bandel, usai demam, masih saja lemas dan batuk yang luar biasa cakeeeeeeeeepp bunyi dan perjuangan ngeluarin dahaknya.  Ih!
Ehh masih keliyengan, Kayyisa demam.
Keluhannya pusing, perut ga enak dan bawaannya lemes sampe esok harinya.
Aku mulai was-was, tapi agak mendamaikan hati dengan kenyataan Kayyisa sedang batuk pilek juga.
Kamis sempat turun, tapi malamnya panas lagi.
Jumat cuma sumeng, tp anaknya lemes. Dan mulai mimisan.
Si mimisan ini bukan hal yang aneh buat Kayyisa. Dia satu-satunya yang beberapa kali mimisan tanpa sebab yang ekstrem. Tapi ini sedang demam, batuk pilek, dan aku curiga dia demam Dengue, maka si mimisan bikin ketar ketir. Alhamdulillah cepat kok berhenti pendarahan nya. Lega lagi.

Namun, siang itu aku tetap berangkat konsul ke dr Rastra berkat dukungan dari teman-teman grup juga. Cuaca sekarang ga jelas, dan sedang musim DBD.  Ada batuk pilek tak berarti itu satu-satunya diagnosa yg mungkin terjadi.

Dan Yes, setelah konsul, cek lab, nunggu hasil lab sambi gendong Kayyisa yg mulai lemes, ambil hasil lab dan konsul lagi dengan dr Rastra.
Trombosit sdh dibawah standar,begitu pun leukocyte. Tapi jika aku yakin aku bisa jaga intake cairan selama sehari lagi, Kayyisa ga perlu di rawat dulu, besok pagi cek darah lagi, gitu kata dokternya.
Berhubung aku tau Kayyisa bukan anak yang hobby minum, dan akan susah membujuknya, aku angkat tangan.
Akhirnya ttp sambi gendong Kayyisa, aku urus surat rawat inap.
Daaaaaan, waiting list. Tapi insyaAllah bisa masuk kamar malam ini karena ada pasien yang akan pulang.
Akhirnya Kayyisa dari jam 5 sore, transit di IGD dulu untuk istirahat dan pasang infus.
Alhamdulillah jam 9 malam bisa masuk ruangan.
Keputusan yang tepat aku minta ranap saja, karena kalo besok belum tentu ada kamar yang ready.
Lagi musim sakit DBD dimana-mana.

image
Kayyisa ditemani Abang Daffa yang ikut hijrah ke RS

Pas nunggu di IGD itu, Daffa datang ikut menemani, alhamdulillah ada tetangga yang bisa antar Daffa ke RS.
Sedang Hazza, terpaksa di rumah bersama dengan si Mba kemudian aku minta tetangga yg sudah seperti saudara sendiri untuk ikut menemani.
Kebetulan ayahnya hari ini sangat hectic di kantor, karena merupakan hari terakhir dan sibuk dengan acara serah terima, meeting dan juga perpisahan.
Beliau baru bisa nyampe di RS jam 23.15. Trus besoknya si Ayah pulang untuk ganti baju dan menjemput Hazza biar ikut ke rumah sakit.
Dinikmati sajalah kerempongan ini, alhamdulillah punya tetangga dan orang yang bisa di percaya adalah berkah yang harus dijaga. Hidup insyaallah jadi lebih mudah dengan bersilaturahmi dan tolong menolong…

image
Sempet main puzzle hehe

Karena hari ini hari ke 4,jadi siklus penyakitnya ya masih fase turunnya trombosit.
Terakhir tadi 97.
Makanya seharian ini Kayyisa rewel dan ga enak aja bawaannya, seperti kemaren.
Mudah2an hari ke 5 udah bisa naik lagi trombosit nya, jadi kita bisa pulang deh. Aamiin.

image
Main mobil2an

Hazza alhamdulillah senang dan girang banget ke RS, hadeh dikira rekreasi kali ya, masa baru teler jam 4 sore, sibuuuk wara wiri.
Serba salah juga mau bobo.
Aku kelonin di kasur extra, Kayyisa nangis-nangis, aku harus tidur di samping dia.
Aku tidur di kasur Kayyisa, Hazza ikut naik, tidur bertiga di kasur pasien manalah muat, mana Hazza lasak bolak balik dan si kakak yang lagi drama queen, tak ada yg benar-benar bisa tidur. Ah sudahlah 😂
Awalnya mau nginap semua di RS, tapi setelah dipikir lagi, kayanya ga aman untuk Hazza.
Lebih baik Hazza pulang dengan ayahnya, tidur nyaman di rumah daripada di sini pasti rebutan emak dengan si kakak haha.
Besok semoga kakak lebih strong yaaaa💪💪
Moga moga senin dah bisa pulang, aamiin

Tidur ahhh
Udah seminggu tidur kaya zombie, antara mengawang dan menapak, halah 😂

Posted in Tentang aku dan pikirku

😘Jika kau menjadi ibu

Tulisan dibawah ini, bukan tulisanku.
Di copas dari grup WA, sungguh perlu kubaca berulang untuk pengingat diri yang sangat kekurangan ilmu dan ikhtiar sebagai orang tua.
Siapapun yg menulis, barakallahu fiikum…

🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬🐬

🍁Jika kau menjadi ibu,

Jadilah seperti Shafiyyah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk salat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadist dan salah satu imam madzhab. Dialah Imam Ahmad bin Hanbal.

🍀 Jika kau menjadi ibu,

Jadilah seperti Ummu Habibah, yang terus mendoakan anaknya. Ketika anaknya berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya “Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam, anakku ini akan meninggalkanku untuk berjalan jauh menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan RasulMu. Aku bermohon padaMu ya Allah, permudahlah urusannya, peliharalah keselamatannya, dan panjangkanlah umurku agar aku dapat melihat kepulangannya dengan dada yang dipenuhi ilmu yang berguna.”

Doanya tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti kenal dengan nama besarnya, Imam Syafii.

🍂 Jika kau menjadi ibu,

Jadilah seperti wanita ini, yang berkata kepada anaknya “Nak, tuntutlah ilmu. Aku yang akan mencukupimu. Nak, jika engkau telah selesai menulis sepuluh hadist, lihatlah ke dalam jiwamu, apakah kau dapati ia bertambah lembut, takut, dan wibawa. Jika tidak, maka ketahuilah bahwa ilmu mu itu membahayakanmu dan tidak bermanfaat” Dari sosok ibu ini, lahirlah seorang ahli hadist dan faqih Arab, Sufyan ats Tsauri.

🌀”Wahai ibu, jika surga setiap anak berada di bawah telapak kakimu, maka jadikanlah setiap jejak langkahmu sebagai jalan mereka ke pintu surga….”

══════ ❁✿❁ ══════

💖 Selamat bermunajat dengan Allah SWT 😇

🙌Allahu Akbar🙌

Posted in Tentang aku dan pikirku

Reminder, ingat anakmu dlm doa…

Now adays, banyak sekali penguatan dan nasehat yang bs kita dapatkan melalui sebuah komunitas di dunia maya.
Jk tdk di simpan, pastinya akan tenggelam begitu saja.
Di bawah ini salah satu nasehat yang harus selalu ku ingat, mengingat sebagai orang tua, aku sungguh sangat banyak kekurangan dan dosa hiks

==========================

Oleh-Oleh Dari Seminar ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’

Oleh: thasya sugito

Ceritanya, april yang lalu, saya berkesempatan berada sepanggung dengan beberapa ibu hebat, dalam sebuah seminar parenting yang temanya adalah ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’. Para ibu hebat itu adalah:Ibu Siti Oded (Istri wakil walikota Bandung), Bunda Ria Mulianti (Istrinya Kak Eka Wardhana-Rumah Pensil Publisher), dan Teh Ninih Muthmainnah (Istri Aa Gym).
Masya Allah…

Bunda Ria Mulianti…menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik keempat putranya. Beliau adalah seorang yang cukup sibuk diluar rumah…karena punya amanah di Rumah Pensil Publisher , sanggar gambar rumah pensil, dan juga menggawangi creative women community.
Tapi,kesibukan beliau tidak membuat beliau lupa untuk mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dan sahabat2nya. Hasilnya…anak pertama beliau adalah anak yang sangat ingin berjihad ke palestina, bahkan di usia 12 tahun, bilang ke bundanya: “bun, aku sudah menabung…ini celengan aku, tolong izinkan aku berangkat ke palestina ya. Aku sedih melihat anak-anak palestina tidak bisa sebahagia aku disini.” Bunda Ria akhirnya mengarahkan anaknya, untuk berjihad dengan pena…anak tsb diarahkan untuk menulis buku, dan ia akhirnya menulis satu seri buku cerita anak tentang jihad dan anak2 palestina. Buku tersebut sudah habis terjual 1000exp dalam 10 hari saja!! Menurut pengalaman bunda Ria, cara paling efektif untuk mengajarkan anak nilai2 kebaikan adalah dengan cara mendongeng (selain keteladanan tentunya). Sehingga beliau tidak pernah melewatkan malam tanpa mendongengkan kisah rasul dan para sahabat kepada anak-anaknya. Mendongeng, tidak harus dengan style pendongeng yang sangat ekspresif, yang mungkin sulit kita tiru….tapi lakukanlah dengan cinta….sehingga dongeng kita akan sampai ke hatinya..
Prinsipnya, kalau anak-anak sudah mengenal Tuhannya, Rasulnya (melalui dongeng)…maka insya Allah mereka akan mencintai Allah dan RasulNya. Bukankah itu yang kita harapkan?? Anak-anak yang mencintai Allah dan RasulNya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal yang tidak disukai oleh kekasihnya itu?
Disini, yang terpikir oleh saya adalah “duh….sudah sejauh mana saya mengenalkan Allah dan juga Shiroh kepada anak-anak? Mengenalkan mungkin sudah…tapi sudahkah saya secara konsisten berikhtiar menumbuhkan cinta mereka pada Allah dan Rasul serta para sahabat?? (hiks…tamparan pertama)’”

Lalu…Umi (Bu Siti Oded), menceritakan dahsyatnya dampak rumah cinta. Beliau menceritakan fenomena anak2 di sukabumi (kota kecil) yang 60% dari 200 anak usia remaja yg dijadikan objek penelitian, ternyata sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Astaghfirullah….astaghfirullah…..kalau di kota kecil saja begitu? Gimana kabarnya dengan anak2 kita yang hidup di kota2 besar? Tambahannya…Umi cerita, bahwa ketika berkunjung ke beberapa pesantren, lalu bertanya kepada para SANTRI tentang siapa idola mereka….rata2 jawabannya adalah para artis (lokal dan korea). Duh….apakah mereka tidak mengenal Rasulullah? Sang manusia mulia nan sejati cintanya…
Itulah sebabnya….Umi menekankan…bahwa cinta, adalah dasar dari pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan bangunan cinta yang kokohlah, anak tidak akan keluar dari pakem yang disepakati dalam keluarga. Sehingga, kata-kata “membentengi” anak….sejatinya bukanlah membentengi secara fisik (memproteksi fisik anak dari lingkungan yang tidak baik, dll)…melainkan membangun benteng tsb dalam diri anak, sehingga tercipta resiliensi (kemampuan anak untuk selalu berada dalam pakemnya, dalam koridor yang ditetapkan menjadi nilai terbaik untuk dirinya dan keluarganya) dimanapun anak berada…dengan siapapun anak bergaul. Resiliensi ini hanya akan terkokohkan dalam diri anak, bila di rumah cintanya sudah terbangun, sehingga tidak ada tempat lain yang lebih nyaman bagi si anak, selain di rumahnya sendiri.

Berikutnya, yang selalu harus menjadi pegangan utama dalam mendidik anak, dan kembali diingatkan oleh teh Ninih: “Yaa Bunayya…Laa Tusyrik Billah”. Teteh cerita….sebelum ke hal lainnya, pastikan dulu bab ini sudah mantap. Bab ketauhidan, yang menjadi dasar dari agama islam. Sehingga, insya Allah pertanggung jawaban kita kelak akan lebih ringan.
Lalu…yang orangtua sering lupa: TAUBAT!!

Kita sering merasa anak sulit diatur…anak banyak membantah…anak tidak sesuai harapan. Lalu saat perasaan itu hadir, seringkali kita merasa, itu adalah ‘salahnya’ anak. Padahal….sejatinya, itu adalah kesalahan kita dalam mendidik. Maka,TAUBAT adalah bagian terpenting dalam proses mendidik anak. Jangan hanya banyak harapan thdp anak….tapi, perbanyak taubat, perbanyak tafakur.

Teteh cerita, bagaimana dulu Ghaza (putra ke-6 tth), adalah anak yang kerjanya main PS…gak semangat belajar….sampai harus mengenakan kacamata dengan silindris 6 karena hobinya itu. Teteh saat itu merasa berdosa….karena tidak tegas dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ghaza. Lalu…saat berkesempatan umroh, teteh menangis di multazam….bertaubat…mengakui kesalahannya dalam mendidik anak, dan memohon agar Allah mengampuni. Sepulang umroh….Ghaza ditanya oleh salah seorang ustadz di DT, mau tidak Ghaza menghafal qur’an? Ghaza langsung jawab mau…tanpa ba-bi-bu. Padahal, sebelumnya….sulit sekali tth mengarahkannya. Singkat cerita….dalam waktu 6 bulan…Ghaza menyelesaikan 27 juz hafalan qur’annya….dan tuntas 30 juz hanyadalam waktu 8 bulan saja.

Sehingga, benarlah…taubat kita, adalah pembuka jalan. Ketika kita bertaubat…memohon ampunan Allah atas kefakiran ilmu kita dalam mendidik anak, Allah akan bukakan jalan.

Selain itu…mencintai anak, artinya mendoakannya dengan penuh cinta. Bukan sekedar kata-kata tak berarti….melainkan kata-kata yang lahir dari hati. Saya mempraktekkannya sejak punya anak pertama 11 tahun yang lalu….ilmu ini pun saya peroleh dari teh Ninih, waktu saya masih nyantri di DT: Setiap Sholat malam….usahakan sholat dengan rakaat 2-2-2-2-…., agar kita memiliki banyak waktu untuk mendoakan anak dan suami. Ba’da dua rakaat pertama…doakan orang tua dan suami dengan penuh cinta.

Lalu…ba’da dua rakaat kedua, doakan anak yang pertama. Ba’da dua rakaat ketiga, doakan anak yang kedua, dst….

Perhatikan….setiap kali iman kita sedang baik, cinta kita sedang penuh….anak akan menjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebaliknya….setiap kali iman kita sedang lemah….kita sedang futur, anak pun akan terasa sulit diatur, dll. Maka….penuhi diri dengan energi iman….sehingga cinta akan lahir tanpa diminta.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, insya Allah akan menjadi pribadi yang penuh cinta pula.
Dengan Cinta kita mendidik anak….dengan ilmu kita mengasuhnya….

Sungguh, berada disana bersama para ibu luar biasa ini, menyadarkan saya betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit ilmu yang sudah saya tahu dan amalkan..
Semoga bermanfaat ^_^