Diposkan pada Uncategorized

Hampa tapi Lega

Rumah kembali sunyi….

Pagi ini Atuk dan Niniknya anak2 bertolak kembali ke Padang…

3 minggu lamanya mereka di sini, melanjutkan terapi untuk tumor recty yang dialami Mama….

Sebagai menantu, aku sungguh banyak kurangnya. Tapi Mama dan Papa selalu berhati lapang dan menerima.

Ya Allah semoga syukurku bertambah, semoga baktiku pada orang tuaku dan orang tua suamiku semakin baik dari waktu ke waktu…

Ketika berpamitan tadi, aku memeluk mama dan mengucapkan maaf tidak terlalu baik dalam mengurus Mama selama di sini. Mama malah menangis dan berkata, ” Mama hanya khawatir bahwa Mama tidak akan bisa menemani Hazza (dan kakak2nya) pas kalian naik haji nanti (karena umur ga sampai) 😭😭

Alhamdulillah meski di hati rasanya masih belum puas dan tiba2 merasa hampa melihat rumah yang kosong ( anak2 ke sekolah, ayahnya keluar kota), tapi bersyukur bahwa agenda mama ke sini insyaAllah terpenuhi dengan hasil yang diharapkan, dengan ijin Allah.

Mama menjalani ESD ( Endoscopy Submocosa Disection), untuk pengangkatan tumor recty yang kambuh padahal baru Bulan Oktober 2017 yang lalu di bersihkan. Dan waktunya sangat pas dengan kedatangan tim ahli gastro dari Jepang yang sedang kunjungan ke FKUI-RSCM, dan tindakan ESD kepada mama ini menjadi study kasus para residensi.

Sempat ada kegalauan ketika dijelaskan bahwa akan ada kemungkinan terjadi perforasi usus, dimana bila itu terjadi, mama akan di rujuk ke Bedah, usus nya akan terpaksa di potong di bagian yang terkena, dan mama akan memiliki colostomy permanen. Kenapa permanen? Karena otot anus yang dekat dengan lokasi tumor juga harus di angkat.

MasyaAllah, Allahuakbar, dengan bimbingan dan kekuatan hati dari Allah, mama menjalani ESD, sambil kami terus berdoa semoga berhasil dan tak ada komplikasi.

Dan Allah yang Maha Rahman dan Rahiim, mengabulkan doa kami. Alhamdulillahirabbil’aalamiin…

Semoga kedepannya penyakit mama ga kambuh lagi seperti yang dijelaskan oleh prof dari Jepang tersebut ( ga tau namanya, padahal dah tanya dokter residen).

Kata beliau, dengan cara ESD dengan alat yang baru ini (beliau bawa alatnya dari sana), jika berhasil, maka dia tidak akan kambuh. Dengan seijin Allah tentunya…

Btw, aku menulis di sini, dalam rangka memaksa diri untuk belajar menuangkan kembali isi pikir dan rasaku.

Entah sejak kapan, I just can’t write properly. Bahkan nulis status di facebook aja aku sering ga ada ide.

Padahal ada banyak peristiwa yang seyogyanya bisa diabadikan dalam tulisan.

Tak harus tulisan yang penuh hikmah membuat yang membaca termangu-mangu, mengangguk-angguk, merasa terinsipirasi.

Tulisanku masih jauh dari itu.

Aku menulis untuk diriku.

Untuk mengalirkan rasa yang barangkali bertumpuk dalam batinku.

That’s it.

Iklan