Posted in Tentang Daffa

1st day trip 2 jakarta:”karena usianya sudah 3 tahunan…”

Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga cita-cita untuk bawa Daffa ke Jakarta. Setelah berbulan-bulan cari waktu yang cocok antara jadual dinas papanya ke Jakarta sama jadual ahlinya,baru inilah bisa klop semua. Padahal Daffa harus terima rapor dan ikut dalam acara perisahan kakak TK di sekolahnya. Terpaksa minta di maklumi deh…

Kami berangkat hari Selasa malam. Agenda wajib hari Rabu adalah bertemu dengan dr,Hardiono,SpAK di Klinik Anakku Kelapa Gading. Karena jadualnya sore,siangnya aku kosong dong…Daripada bosen karena bengong,mending ajak Daffa jalan-jalan deh…Rencana pertama adalah ke daerah Rawamangun mau lihat tempat anak tanteku di terapi (anaknya juga special needs kaya Daffa).Kayanya bagus,make metoda Glenn Domann. Sayang ga keburu ubtuk survei,gara-gara kelamaan nyuapin Daffa .Jadinya kesiangan buat ke sana.

Alhamdulillah,ada rumah temen yang dekat hotel. Main deh ke Tebet,ketemu sama Leny ( istri karyawan Unilever juga),juga anaknya Athar. Anaknya seusia sama Daffa,sempet speech delay juga. Alhamdulillah sekarang ngomongnya dah banyak, lucu deh dengerinnya…Kalo Leny baca ini, so thank you banget….senang bisa bertemu dirimu lagi….

Di Klinik Anakku, ada juga pasien yang autisnya berat. Usia mereka sudah mulai memasuki masa remaja. Secara fisik mereka tumbuh normal,yang perempuan sudah menunjukkan tanda-tanda kewanitaannya. Tapi mentalnya terkurung di usia yang jauuuhh lebih muda. Masih berteriak-teriak sesukanya, mesti didampingi kemana-mana karena jalan yang ga tentu arah, sikap yang tak peduli dengan sekitanya,wajah yang datar tanpa ekspresi…

Melihat mereka, aku jadi berkaca diri bahwa masalahku tidak seberat yang mereka hadapi. Tak jarang orang tua atau siapapun yang sedang mendampingi mereka harus menahan malu karena tingkah mereka yang “aneh”, tidak sesuai norma dan keadaan. Anak tetanggaku yang juga autis malah tidak betah berpakaian. Dia nyaman berkeliaran telanjang,padahal usianya sudah belasan tahun. Jadilah dia tahanan rumah, di kunci saja di kamarnya.

Daffa memang tak mau diam di sana. Ada saja yang dikerjakannya. Mendorong-dorong kursi, naik ke meja, tidur-tiduran di lantai, mencoba merebut mainan, tapi masih undercontrol,masih bisa dipanggil dan dilarang. Memang tak semua anak yang konsul ke sana punya masalah prilaku dan interaksi, jadinya Daffa sempat juga jadi sasaran tatapan. Tapi ah, sudah biasa…Aku udah ga kaget lagi. Orang-orang juga sudah maklum.

Bagaimana hasil konsulnya?

Setelah diobservasi dan interview sama dokternya,beliau berkesimpulan bahwa Daffa memang perlu bantuan. Karena usianya sudah 3 tahunan,sedang kualitas interaksinya masih minimal,kosakatanya sangat terbatas,masih kurang respon saat dipanggil, serta kemampuan identifikasi yang masih nol, dikhawatirkan Daffa mengarah ke Autis.

Kemudian Daffa di observasi lebih lanjut oleh tim yang lain dengan cara mengajaknya bermain, negosiasi,bermain pura-pura dan memberi perintah-perintah sederhana. Ternyata ga jelek-jelek amat. Mereka senang Daffa lumayan berespon.

Sebelumnya di bulan Januari, Daffa juga pernah di konsulkan,tapi tanpa kehadirannya. Papanya saja yang ke sana,dan bercerita tentang kondisi Daffa dan mengisi beberapa lembar pertanyaan untuk membantu mengidentifikasi. Beliau menyarankan agar Daffa di terapi di Jakarta saja,karena beliau tak bisa merekomendasikan tempat terapi di Surabaya. Alhasil,sempat kami mempertimbangkan untuk kembali ke Jakarta demi kesuksesan terapi Daffa. Sejauh ini di Surabaya baru ada satu tempat terapi yang menggunakan metoda Sensory Integrasi dan floortime. Tapi untuk berkuda,hiking dan berenang,kami tak menemui kendala. Jadilah kami memutuskan untuk tetap stay di Surabaya….

Dokter menilai,prognosis Daffa cukup bagus…Tapi kami tak punya banyak waktu,mengingat usianya sudah tiga tahun. Beliau menjelaskan tentang kriteria terapi yang sukses:

  1. Ibu si anak harus mau belajar bagaimana caranya menangani anak special needs

  2. Sesudah terapi di luar,harus di ulang di rumah.

  3. Anak harus happy dalam menjalani terapi,tak ada pemaksaan yang membuat stress baru.

  4. Harus ada kemajuan dalam 3 bulan (ada target yang jelas dari terapisnya)

Karena aku sudah punya buku CWSN (Children With Special Needs), beliau mewanti-wanti aku untuk mempelajari buku itu kembali. Ih,jadi malu,soalnya aku bacanya lompat-lompat, belum tamat sampe sekarang. Niat ga sih,De…??Please deh!

Terapi dan metoda yang sudah kami jalankan saat ini diteruskan saja. Namun bila dalam tiga bulan tidak ada kemajuan dari kondisi sekarang, secara halus beliau menyarankan untuk terapi di Jakarta di bawah supervisi beliau. Artinya, kami harus mempertimbangkan untuk kembali ke Jakarta. Bukan keputusan yang mudah, karena papanya kan ga bisa pindah kerja begitu saja…Bagiku juga hal yang nyaris mustahil bila kami harus berpisah kota dengan papanya. It’s a big decision for us! Alhamdulillah sementara ini, itu tidak perlu terjadi…

Ayo,mama Daffa.Semangatlah!

It depends on you.

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

One thought on “1st day trip 2 jakarta:”karena usianya sudah 3 tahunan…”

  1. Anak saya reisya…saya juga bolak balik ponorogo bandung untuk terapi SI dan floortime… kl mungkin di surabaya ada…mohon infonya…akan sangat berarti buat saya…terimakasih bunda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s