Posted in Tentang aku dan pikirku

Wadduh,bagaimana ini??

Setiap orang yang menuju ke jenjang pernikahan,pasti mengalami pasang surut kemantapan hati. Setidaknya itu yang pernah dialami olehku dan juga oleh orang-orang terdekatku. Ada-ada saja masalahnya…Bagi yang akhirnya terlaksana juga pernikahannya,bisa dengan senyum simpul mengatakan,” Oh,dulu itu hanya ujian kebulatan tekad. Menikah itu kan pekerjaan baik, syetan pasti menghalangi-halangi orang yang berniat ibadah.”

Tapi entah apa yang dirasakan oleh akhwat yang satu ini. Sekarang ini hatinya sedang di dera gelisah dan dihantam kebimbangan yang membuatnya sangat tertekan. Ternyata baginya, menuju pernikahan adalah saat-saat terburuk dalam hidupnya….

Dia bertemu dengan calon suaminya ini lewat perjodohan yang diprakarsai orang tua. Si Lelaki tidak berada di kota yang sama dengannya. Di tahap awal,sang wanita juga sudah merasa heran. Dia sudah mengirimkan biodatanya melalui orangtua yang laki-laki,tapi sampai sebulan tidak ditanggapi. Dicoba konfirmasi pada pihak keluarganya, mereka mengatakan,”Tunggulah,anak saya serius dengan pertemuan ini. Dia berencana pulang dalam waktu dekat.” Sampai sejauh ini input yang didapatkan tentang si pria adalah profil yang penyayang,hormat dan patuh pada orangtua,rajin sembahyang,dan punya pemikiran yang cukup bijaksana dalam memandang kehidupan,serta sikap yang berserah diri kepada Allah.

Akhirnya,bertemulah mereka berdua. Kesan pertama,baik-baik saja. Yang perempuan,Ok.Yang lelaki,Ok. Besoknya sebelum berangkat kembali ke kota tempat dia bekerja,dia mampir ke rumah yang perempuan untuk bertemu dengan orangtuanya. Percakapan lebih kepada hal-hal yang sederhana, belum sampai ke masalah lamaran. Orang tua si perempuan bertanya-tanya dalam hati,”Dia tertarik ga sih dengan anakku?”

Jawaban didapatkan dari pihak keluarga yang laki-laki,mereka meminta supaya proses pertunangan segera dilangsungkan karena anak laki-lakinya sudah menyerahkan urusan ini pada keluarga mereka.Katanya,dia merasa ada kecocokan dengan wanita ini, jadi tolong urus selanjutnya oleh keluarga saja.

Keluarga yang perempuan terbengong-bengong. Apakah harus secepat itu? Pihak keluarga yang laki-laki (yang berada satu kampung dengan keluarga yang perempuan) berusaha meyakinkan bahwa anak mereka sungguh-sungguh sudah berniat berumahtangga (secara umurnya juga sudah diatas 30 tahun),dan di mata keluarganya, laki-laki ini adalah anak,adik,kakak,kemenakan yang baik.Tak pernah berbuat cela.

Si wanita masih pikir-pikir dulu…Alasannya, dia merasa belum terlalu mengenal pria ini. Biarlah ta’aruf saja dulu,meski sejauh ini dimatanya belum ada cela tentang lelaki ini. Dia tak keberatan untuk membina hubungan yang lebih serius,tapi ternyata sejak pertemuan terakhir mereka, si lelaki ini tak pernah lagi menghubungi…Sepertinya urusan ini sudah benar-benar diserahkan pada keluarganya saja.

Namanya di kampung,gosip pun berembus cepat. Banyak sudah orang yang bertanya apakah benar si anu sudah tunangan dengan si anu? Keluarga yang lelaki pun terus mempertanyakan kapan akan diresmikan hubungan ini. Pada akhirnya si wanita memberanikan diri untuk bertanya pada si pria,apakah betul dia berniat untuk terus ke tahap selanjutnya? Si Lelaki menjawab,”ya”. Sempat mereka tanya jawab tentang diri masing-masing,tapi sebenarnya tidak cukup mendalam untuk bisa saling memahami.

Entah bagaimana bergulirnya,pertunangan pun dilangsungkan juga secara adat. Dalam adat Minangkabau, pihak wanita “meletakkan” sejenis kain songket sebagai tanda telah ada ikatan. Ini bukan hanya melibatkan dua keluarga saja,tapi sudah ninik-mamak kedua belah pihak. Sudah sekampung yang terlibat, begitulah kira-kira.

Dari terakhir mereka berkomunikasi sampai memasuki minggu kedua pertunangan mereka, si lelaki ini tak kunjung mengirim kabar. Jangankan telpon, sms pun tidak. Si Wanita yang bertipikal melankolis dan introvert ini, mulai menahan kesal di dalam hati.”Ini orang serius ga sih?” atau “Aku ini kayanya ga penting deh buat dia!”

Setelah di bujuk-bujuk,mau juga si perempuan ini mengalah dengan meng-sms tunangannya. Dia minta di telpon esoknya. Menelponlah yang lelaki,menjelaskan dan minta maaf atas ketidakbisaannya menelpon dengan alasan: ‘memang tidak biasa telpon-telponan dengan siapapun juga dan sedang sibuk dengan pekerjaan’.

Bukannya jadi lega, yang perempuan tambah kesal. Dia mulai merasa keputusannya dan keluarganya untuk bertunangan adalah keputusan yang salah. Dia merasa tidak dihargai sebagai calon istrinya,dan dia merasa sepertinya tidak akan sanggup menjalani hidup dengan pria yang (menurutnya) tidak peduli. Belum lagi terdengar selentingan bahwa sebenarnya pria ini menikah gara-gara sudah gerah diolok-olok teman-temannya:”usia sudah lebih kepala tiga masih membujang saja”. Tambah galaulah si wanita…

Sebelum ini ada lagi masalah yang muncul. Tiba-tiba pihak lelaki meminta supaya rencana pernikahannya di Bulan Syawal diundur ke Bulan Haji dengan alasan rumah kontrakannya masih dalam perbaikan.Si wanita heran saja, baginya itu bukan perkara yang penting. Kalau akan diundur,kenapa keluarganya mendesak untuk segera bertunangan? Lagian, dia bukan tipe perempuan yang menikah karena sudah ada rumah. Yang penting niat yang tulus,dan tekad menikah karena Allah…

Hari-hari belakangan ini si wanita benar-benar dalam kebingungan. Dia sudah sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya dia tidak cocok dengan laki-laki ini.Dia yang dasarnya pendiam,lalu menikah dengan seorang yang tidak komunikatif pula, rumah tangga macam apa yang akan dia jalani??

Bukan perkara yang mudah untuk memutuskan pertunangan dalam adat Minagkabau. Selain di denda dengan 1 ekor kerbau (yang harganya bisa jutaan), juga harus tahan malu karena akan jadi perbincangan orang sekampung. Ninik-mamak turut menanggung malu pula…

Ditengah kekisruhan ini, ada berita bahwa si pria habis masa kontraknya di tempat dia bekerja sekarang. Artinya, dia jobless saat ini. “Wadduh,bagaimana aku bisa mutusin dia?”jerit hati yang perempuan,”bisa-bisa disangka karena dia ga ada kerjaan.Padahal karena orangnya aja yang tidak komunikatif!” Menangislah dia,hampir putus asa rasanya…

Apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya?

Aku pun pusing tujuh keliling.

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

2 thoughts on “Wadduh,bagaimana ini??

  1. Wuaduh, susah juga yah kalau kata hati tidak sreg sebelum pernikahan, apalagi sudah melibatkan keluarga besar dan ninik-mamak. Tetapi kalau dipaksakan dan jadi menikah lalu tidak cocok lalu bagaimana? Every one deserves to be happy, hmmm… *garuk-garuk kepala*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s