Posted in Tentang Daffa

Ben:”Label yang menyesatkan”

Ben yang berusia dua tahun baru saja mendapat diagnosa Pervasive Developmental Disorder (PDD),dapat dipahami kedua orangtuanya,Sarah dan Mark,merasa bingung. Mereka membawa Ben untuk evaluasi lebih lanjut. Mula-mula Ben duduk dipangkuan ibunya,dengan punggung menghadap terapis,berpegang erat-erat kepada ibunya. Namun setelah lebih dari 15 menit,sedikit demi sedikit ia berpaling dan sembunyi-sembunyi memperhatikan terapis itu. Ia akan memutar kepalanya dengan cepat sewaktu terapis memandangnya.

Begitu Ben memandangnya lebih lama,terapis itu mulai berbicara dengan lembut,memanggil namanya dan dengan menunjukkan ekspresi wajah lucu. Ben pun balik tersenyum dengan ragu-ragu. Beberapa menit kemudian,Ben terkekeh-kekeh melihat wajah lucu terapis dan dengan malu-malu berpaling kepada Sarah dan merangkulnya disertai senyuman paling menggembirakan yang dapat diberikan seorang anak berusia dua tahun. Mark dan Sarah serta terapis masih berbicara selama beberapa menit,sementara Ben mengedarkan pandangannya seputar ruangan dengan rasa ingin tahu.

Setelah pertemuan itu berlangsung setengah jam,Ben turun dari pangkuan ibunya,meraih tangan ibunya dan menariknya. Sarah mengikuti Ben yang berjalan tertatih-tatih dan belum stabil ke arah pintu,memukuli pintu bertubi-tubi seraya menggeram-geram seakan menuntut. Ia ingin keluar! Dengan sabar,Sarah menjelaskan bahwa mereka harus menunggu sebentar lagi. Mendengar ini,Ben membanting tubuhnya ke lantai dan meninju lantai berulang-ulang. Ketika Mark mencoba mengangkatnya,ia meluapkan kemarahan yang hebat,menendang dan berteriak dengan frustasi. Sepuluh menit dalam bujukan dan dekapan orangtuanya,membantu menbuatnya diam. Ben menghabiskan sisa waktu pertemuan itu dengan bergelung diatas pangkuan ibuya,menolak menatap mata siapapun.

Ben menunjukkan berbagai keadaan yang sering digambarkan sebagai autistik. Ia terlihat mengalami keterlambatan bahasa dan mungkin masalah kognitif; sistem motoriknya tampak kurang berkembang; dan ia asyik dengan prilaku motorik yang berulang-ulang. Namun,ia kurang memiliki ciri-ciri utama anak autistik,yaitu ketidakmampuan menjalin interaksi. Menurut definisi autisma,anak-anak autistik secara permanen tidak dapat berinteraksi dengan orang lain,kekurangan dalam kapasitas menjalin keintiman dan kegembiraan. Jelas,bagian dari definisi ini tidak berlaku bagi Ben. Ia hangat,senang berpelukan dan gembira saat bersama ibunya,tersenyum dan tertawa kepada terapisnya. Ben amat mampu menjalin interaksi-meskipun dengan cara yang lebih terbatas dibandingkan kebanyakan anak seusianya.

Terapis itu mengatakan pada orang tua Ben bahwa ia tidak yakin anak lelaki mereka autistik. Ia lebih terlihat mengalami berbagai masalah sensorik,pemrosesan,dan motorik,yang mengganggu cara ia menangkap,memroses dan bereaksi terhadap informasi dan lingkungannya. Masalahnya dapat ditanggulangi,suatu program intensif dapat mebantunya mengatasi masalah dalam pemrosesan dan belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi sepenuhnya.

Semenjak menerima diagnosa PDD,orang tua Ben menjadi sibuk dan membeli banyak buku mengenai gangguan tersebuta,yang senmuanya menuliskan gambaran masa depan yang suram. Mereka berontak.”Tidak untuk anak kami! Ia akan lebih baik dari itu!” Namun,walaupun kasih sayang,kemarahan dan kekukuhan mereka untuk menolak diagnosa itu,tapi perubahan-perubahan halus lambat laun menyusup ke dalam interaksi mereka dengan Ben. Mereka tidak lagi mengharapkan Ben menoleh setiapkali dipanggil; tidak lagi mengharapkan Ben tersenyum ketika digendong. Suatu suara dalam diri mereka berkata,” Ia tidak akan menanggapi. Jangan berharap ia menanggapi; ia mengalami PDD”. Pelan,mereka mulai menerima keterbatasan yang diakibatkannya…

Kini,label yang menghancurkan itu telah dicabut. Anak lelaki mereka bukanlah dibatasi oleh hal-hal yang dimiliki seorang anak dengan diagnosa PDD. Ben memiliki berbagai masalah sensorik,pemrosesan dan motorik yang mungkin membaik secara bertahap. Meskipun mengerti bahwa sebuah jalan yang panjang terbentang di hadapan mereka,harapan mereka bangkit.

Hal terpenting,mereka mulai mencari lebih banyak tanggapan emosional,menjadi lebih bersemangat dan lebih responsif. Terapis Ben membantu mereka menyusun program terapi yang intensif,yang meliputi terapis okupasi,terapis wicara untuk mengatasi masalah -masalah biologis Ben dan seorang terapis untuk membantu Mark dan Sarah memperbaiki interaksi mereka dengan Ben sesuai cara yang dibutuhkannya.

Enam bulan pertama BEn menjalani terapi,Ben menunjukkan perbaikan yang bermakna. Ia dapat terlibat secara gembira dengan orang-orang yang penting dalam hidupnya selama beberapa menit setiap kalinya; ia lebih sering mencari orangtuanya untuk keintiman,dan prilaku berulang-ulang serta asyik dengan dirinya sendiri mulai berkurang. Ia lebih banyak memprakarsai ekspresi wajah dan gerak-isyarat serta menanggapi pertanyaan sederhana orang tuanya dengan bahasa isyarat yang tepat; memiliki perbendaharaan empat atau lima kata untuk percakapan dan lebih siap meniru kata-kata baru. Ia mulai menapaki tahapan perkembangan selanjutnya.

Ben tidak sendirian.

Dewasa ini,banyak anak yang diberi label yang menyesatkan. Bukannya menunjukkan dengan tepat masalah-masalah dan kekuatan unik seorang anak,mereka justru mengaburkannya dan tanpa sengaja mengacaukan dan menciptakan harapan-harapan negatif pada pihak orang tua,terapis,serta pendidik.

.…………..kisah ini mirip dengan apa yang tengah kami alami dengan anak kami. Membuatku kembali optimis bahwa anakku pun akan bisa menjadi lebih baik,meski akan panjang perjalanan yang kami tempuh. Semangatlah!! Allah telah berjanji bahwa di Balik kesulitan,pasti ada kemudahan. Jadi,janganlah khawatir…….

(ku salin dari buku:”Children With Special Needs“,Greenspan wieder with Simons. )

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

4 thoughts on “Ben:”Label yang menyesatkan”

  1. Ass.

    Moga Allah menolong ya bu….
    benar sekali….Balik kesulitan,pasti ada kemudahan..

    yup…positif thinking pada ALLAH itu mesti

    (madaff) “insyaallah,terimakasih doanya…semoga tetap istiqomah..Amin”

  2. salam kenal ya bu ato ni ?

    (madaff) “Bu boleh….Unie pun boleh…Salam kenal kembali Pak/Mas Alex:D
    Terimakasih dah mampir ke baiti ambo…”

  3. Jadi teringat waktu mendampingi seorang anak yang pernah didiagnosis autis, tapi perkembangannya dia hanya mengalami gangguan hipoaktif dan keterlambatan perkembangan. Kadang kita terlalu sibuk dengan labeling anak…padahal yang paling penting penanganan terapinya… (tuh, saya pun masih pake label juga kan…?!)

    Iyah,sepakat….yang penting penanganan yang tepat…..Thx mba unita,salam kenal…:)

  4. Inget kan, De waktu kita ngobrol sambil mandangin Daffa, Re hampir nggak percaya kalau Daffa adalah anak dengan special needs.
    karena kayanya ada anak-anak yang lebih parah dari Daffa.

    Re percaya Daffa bisa jauh lebih baik dari sekarang, Re yakin karena melihat perjuangan Ade & Uda. Apalagi nanti kalau di Jkt terapinya bisa lebih intens.

    Tetap semangat ya De

    “Doakan terus ya ammah Raya,…Daffa cepat menyusul ketertinggalannya…Yang jelas, kita harus bergegas nih,memberikan ikhtiar dan doa yang sungguh2…

    Urusan hasil mah, Allah yang punya…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s