Posted in Tentang aku dan pikirku

Sisi Lain Diriku Yang Tersembunyi

Hari ini Daffa bangun dari tidur siangnya jam 4 sore. Aku melongok keluar rumah, cuaca mendung,tapi tidak hujan. Terburu-buru ku siapkan peralatan renang Daffa,juga pakaian ganti untukku. Minggu ini Daffa belum berenang sama sekali karena sering turunnya hujan.

Seperti biasa bila aku terburu-buru, selalu merasa ada sesuatu yang tertinggal atau terlupakan. Sebelum keluar rumah, ku bongkarlagi tas renang Daffa,ku cek satu persatu. Komplit. Jadi apa yang bikin perasaanku ga enak ya? Karena khawatir hari semakin sore, kita berangkat juga menggunakan bajaj menuju kolam renang Tirta Mas PuloMas.

photo-0131Di sana rame sekali, seperti biasa kalau kita berenangnya di sore hari. Dan aku betul-betul sedang malas, rasanya sedang tak ingin berdingin-dingin di dalam air. Tapi demi menjaga Daffa yang selalu girang bila bermain air,ku celupkan juga kakiku, bertekat kali ini : hanya boleh basah sepinggang saja!

Setengah jam,kulihat bibir Daffa mulai biru. Ku ajak dia keluar dan dia merengek tidak mau. Ku lihat jam yang tergantung di sana, wah …sudah jam setengah enam sore!Sudah hampir satu jam malah Daffa di dalam air. Pantas saja dia mulai kedinginan. Cuaca mendung dan Daffa tidak banyak bergerak atau berjalan di dalam kolam. Dia sibuk meniup selang yang sengaja kubawa supaya Daffa bisa berenang sambil melatih pernafasan dengan membuat gelembung air dengan meniup selang itu. Jadi pantaslah dia cepat dingin kali ini.

Karena aku memang tidak basah sampai ke atas, aku berencana untuk mandi di rumah saja. Daffa kumandikan di pancuran luar supaya tidak perlu antri di dalam kamar ganti. Dia agak rewel, berteriak-teriak tidak jelas, sibuk entah mencari apa, menolak bajunya di lepas, dan tidak mau masuk ke bawah shower ketika sudah telanjang,dan semakin menggigil tentu saja. Daffa juga menolak minum air hangat yang kubawakan dan merengek ingin burger yang di jual di sana. Tak perlu pikir panjang,meski aku ingat itu pantangannya, ku pesan satu burger untuk Daffa. Yang ku inginkan, dia tidak kedinginan dan perutnya hangat dengan segera!

Selesai ku pakaikan baju,kami melangkah ke kamar ganti. Kamar mandinya penuh seperti yang sudah ku duga,tapi dua kamar ganti kosong. Cuma di situ sudah ada orang yang menaro tasnya, artinya sudah ada orang yang ingin memakai kamar ganti itu juga, cuma tidak tau orangnya ada di mana.

Aku bertanya pada seorang ibu yang sedang membilas badannya,”Bu, ini sudah ada orang? Saya mau ganti baju.”

“Oh,pakai ajah,Bu” jawabnya

Tanpa perlu berpikir dua kali,aku masuk dengan Daffa,agak merasa risi juga karena ada tas orang lain bersamaku di dalam ruang tertutup.

Belum selesai aku mencopot pakaian basahku, tiba-tiba dari luar pintu,” Eh, siapa sih di dalam?Saya mau ganti baju!”

Aku yang bingung karena merasa sudah minta ijin dan kaget dengan nada suara kasar ibu itu menjawab,”Saya,Bu. Sebentar, saya ganti baju.”

“Semua orang juga mau ganti baju!Tapi kan saya sudah duluan taro tas di situ!”sergahnya kasar.

Aku mulai tersinggung,”Sebentar,Ibuuuu…Saya juga sudah minta ijin kok tadi sama Ibu yang di depan!”

“Huh, minta ijin sama siapa?! Orang itu tas saya. Emang kalo ada yang hilang,situ berani tanggung jawab?!!”

Kaget dengan kata-kata yang sangat menghina ini,aku terdiam sesaat sebelum tak mampu lagi menahan diri.”Sebentar,Ibu!Anak saya kedinginan!” Ku bentak pula dia.

“Eh,emang situ aja yang punya anak? Anak saya TIGA nunggu di rumah!! Main serobot aja!”

Karena dari rumah perasaanku udah ga jelas rasanya,aku meledak juga,”Emang kamar ganti ini kamu yang punya?! Orang tadi kosong kok, emang harus nungguin situ?!”Aku membalas dengan suara yang sudah bergetar menahan amarah, semakin terburu-buru mengenakan pakaianku.

“Emang bukan punya siapa-siapa! Tapi kan saya duluan! Gimana sih nih orang,ga tertib amat!”sergahnya dari kamar ganti satunya. Dan entah apa lagi yang saling kami teriakkan, yang jelas ga ada yang melunak.

Karena sudah selesai, aku keluar. Dia juga keluar dari kamar ganti sebelah, langsung masuk ke ruang yang baru aku tinggalkan dengan wajah yang ditekuk tiga belas, masih sambil ngomel entah apa,aku tidak mendengar lagi saking sudah sempitnya persepsiku saat itu. Aku balas ngedumel pula,” Heran deh! BENER-BENER NIH ORANG!” Ibu yang tadi mengijinkan aku memakai kamar ganti hanya memandangku dengan wajah serba salah, aku tau dia merasa tidak enak, aku melambaikan tanganku padanya,”It’s Ok”. Dan berlalu dari situ.

Bohong, I ‘m NOT OK!!!

Sambil menggandeng Daffa yang masih menikmati burgernya,yang terheran-heran dengan kejadian barusan, kami berjalan keluar ke tempat bajaj mangkal. Menyebutkan alamat,menawar, sepakat dan duduk di dalamnya. Badanku di sana, tapi pikiranku masih terus pada kejadian barusan.

AKU MASIH MARAH!!

Huh,siapa sih dia? Ngebentak gue seenak udelnya! Sapa suruh taro tas di situ, emang orang mesti nunggu dia kelar berenang,mandi dan ganti baju baru bisa pake kamar ganti?! EGOISS!!

Sejujurnya aku merasa aneh dengan diriku, yang HANYA karena kejadian kecil seperti ini sudah membuatku kehilangan kontrol diri, berantem di depan umum! Ampun dehhhh….

Dalam perjalanan pulang,aku sempat berpikir keras memanggil ingatan lamaku,”Kapan ya terakhir aku pernah semarah ini?” Ternyata….7 tahun yang lalu! Aku juga kehilangan kesabaran dengan membentak ponakan yang punya rumah tempat aku dan kakakku mengontrak dulu. Masalahnya sepele, TELEPON. Tak perlu kuceritakan detailnya, tapi aku dan kakakku takkan pernah lupa kejadian ini, dimana kami merasa diinjak-injak orang. Padahal kami BAYAR, bukan numpang di rumah itu. Usia ponakannya itu cuma 2 tahun lebih muda dariku, tapi dia bersikap seolah dia majikanku saja. Aku sedang bicara dengan tantenya,masih di recoki juga,ku bentak saja,” KAMU DIAM! SAYA SEDANG BICARA! ” Huh, dia pikir gue ga punya taring?? Jangan salah,ya! Copet yang songong meraba-raba tasku di Pasar Senen, kena tamparanku kok!!*tapi abis itu aku ngibrit ketakutan…..:P *

Gara-gara sibuk berkecamuk, antara heran dengan diriku yang bisa meledak dan merasa belum PUAS karena ingin memaki lebih PEDAS,aku sampe bablas,rumah sampai kelewat…Weleh!

Tapi apa yang terjadi ketika aku masuk ke rumah damaiku?

Dadaku sesak….air mata menggenang siap untuk berjatuhan, dan seperti biasa, tak tahan menunggu dia pulang, aku menelpon suamiku, awalnya masih tenang, lalu,bergetar, dan akhirnya menangis dengan dahsyat! Aku sakit hati….sakit hati….dia jahat sekali..aku tak pernah semarah ini….aku tak terima diperlakukan begini….

Puas menangis di telpon dan di depan Daffa yang kebingungan,sampai dia ikut berkaca-kaca pula *doh,…nak maaf….Mama betul-betul tak tahan dibeginikan orang…*, aku mandi,sholat magrib dan mengaji seperti yang dipesankan suamiku. Fikiranku belum seratus persen beres, tapi aku mulai berdamailah….dan yah KONYOL ajah gitu lho, perkara beginian bisa menguras emosiku dengan hebatnya.

Tau apa hal yang paling menggangguku?

BERMASALAH DENGAN ORANG LAIN!

Menurut buku Personality Plus karangan Florence Littauer, ternyata tipikalku adalah: PHLEGMATIS yang DAMAI. Katanya cocok dengan suamiku KOLERIS yang KUAT…Jadi 5 tahun pernikahan kami, alhamdulillah adem ayem saja. Sungguh, kami tak pernah saling teriak, pun kepada orang lain juga begitu. Jadi, kejadian barusan membuatku merasa sangat TERGANGGU, mengacau kedamaianku.

Apakah aku orang yang tidak pernah MARAH?? Ohoooo….jangan tertipu! Aku tidak sesabar seperti kelihatannya, dan memangnya aku tampak sabar? Sepertinya sih tidak…Hanya saja,aku tidak suka KONFRONTASI. Aku lebih baik diam dan menghindar bila merasa tidak nyaman. Bila kepala sudah cukup dingin, baru aku bicara, sedapat mungkin tidak menggunakan emosi negatif. Selalu berhasil? Tidak. Tapi aku tak pernah ngamuk seperti ini.

MARAH selalu membuatku lelah….

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

12 thoughts on “Sisi Lain Diriku Yang Tersembunyi

  1. Huahahaha kebayang dech mama Daffa yang super sabar kalau jengkel. Wah bu, di Tirta mas memang sering begitu.
    Saya ga tahu knp orng suka menaruh tas terus main tinggal di ruang bilas tirtamas, kali maksudnya maunya “booking” kamar bilas.
    Saya pernah ketemu yg begitu, cuek aja bu, orang yg taruh tas (sbg tanda booking kali ya) gedor2 pintu , saya bentak aja hehehe.
    Menampar copet bu? wowwwwwww iyah ada saatnya memang kita ibu2 harus membela diri.

    “Sebenarnya, saya justru lagi ga sabar ngadepin daffa yang lagi rewel dan merajuk, eh…ketemu sasaran buat saya bentak deh! hahahaha….Lagi ngebul nih kepala, ada yang cari perkara pula! Habis sudah!Keluar dah tanduknya saya.
    Jadi ilfil saya ke tirtamas lagi…tp berenang di mana lg ya? *bingung*
    Kejadian copet itu,masih kuliah Mba Nana…Maklum, saya kan mahasiswa kere, duit saya yang ga seberapa mau di copet pula, ya reflek saya pukullah dia. Ternyata, urusan perut bisa bikin kita ga rasional ya…”

  2. sesekali marah ga pa-pa kok. apalagi menghadapi orang seperti itu, kalo kita diam aja wah… tambah ngga karuan rasa di hati. renang di tempat yudhis aja. insya Allah ngga nemuin kejadian kaya gitu. di tunggu kabar berikutnya. tapi ngomong-ngomong … yudhis masih belum ceria. masih rewel, ngga mau makan apapun. sekalinya makan terus batuk dan muntah. sedih, khawatir, kasian, ngga tega, tau lah apalagi …pokoknya lagi ngga karuan juga nich rasanya ngeliat yudhis murung begini. di tunggu kabarnya. ajarin bundanya yudhis dong … biar berani nampar copet.

    ” gimna Yudhis Pak? Udah baikan? Duh…suka trenyuh deh kalo dia lagi GTM begitu, tambah lagi kalo sakit…doh,rasanya sedih banget….Sabar ya Pak….Wah,Pak, ade ga recommended deh soal ngehajar copet, hehehehe….sampe sekarang kalo diingat masih ngeri juga…Kalo di keroyok gimana? Doh, untung cepet kabur….g lagi-lagi deh…out of control kek gini…ampuuunnn….”

  3. Yang sabar aja bu’. Jakarta emang keras. di jakarta kan? semua main kasar, semua main banting, copet dimana-mana.
    Yang penting Daffa gak kenapa-kenapa deh, dan gak kedinginan lagi

    “Bener tuh Cat, obat marah itu sebenarbya sabar….Dan ternyata, sabar itu susyaahhh…..syukurlah Daffa g kenapa- kenapa yah? Kalo mamanya sampe jambak-jambakan sama tuh orang, jadi contoh yang “bagus” tuh buat dia kalo ngamuk….weleh!”

  4. Wah, mantap… boleh dong membela harga diri! TWO THUMBS UP!!!!

    Hahahaha,….sebagai sahabatku di dunia nyata, dikau pasti tau lah kalo daku lagi bete minta ampun amit-amitnya! Galak ketemu galak, habislah sudah! hahahaha….jadi lucu kalo diingat.”

  5. Mantap Uni,……. kadang marah memang perlu,… dan tentunya marahnya udah pada posisi yang Pas,.. hehehehe

    ” semoga begitu ya da Helfy….tapi saya kapok begini lagi. Semoga di masa yang akan datang, saya ga nemuin situsi yang membuat saya MARABO (yang bukan padang: ngamuk,red) Atau kalaupun ada,saya lebih bijak menghadapinya…Ternyata, saya masih pemarah…lho, jadi curhat! hehehehe”

  6. walo dah naro barang, mubajir kamar kosong, nungguin situ kelar keramas beee..
    makanya jangan ditinggal,,,
    ato situ ganti baju aj dulu baru kramas weeek

    “Wuahahaha….bener2 temen gue deh elo Ri! Bravo!”

  7. euleuh2 si teteh meni hebat..ini teh sambil ngebayangin gmn y teteh kl marah…yg kbayang cm senyum teteh hehe piss ah..n sambil g percaya tea ko bs ya teh nonjok copet….top pisan ibu satu ini..perlu berguru nih le ma teteh hehe..soalny le mah suka murungkut🙂 iya y teh dijkt mah emang butuh ksabaran ekstra..

    “wah,dikau termasuk yang beruntung nih, belum pernah nemuin tampang angot dan betenya daku…hehehe….jangan berguru ah,….kapok…kapok…..”

  8. Madaff, guru saya mengajarkan, kalau seseorang sampai tersinggung, ya salahnya sendiri.

    Kita menjadi marah, tersinggung, dendam karena ada bahan bakar di dalam diri yang panas kemudian bertemu dengan sesuatu yang membakar. Jika kita tidak menyimpan bahan bakarnya, maka insya Allah apapun yang datang dari luar tidak akan melukai kita.

    Ada kutipan menarik yang selalu saya ingat di buku Emotional Intelligence-nya Daniel Goleman, kutipan dari Aristoteles: “Marah itu mudah. Tapi marah pada saat yang tepat, kepada orang yang tepat, dengan cara yang tepat, dengan kadar kemarahan yang tepat, itu yang sulit…”

    Jangan mudah marah ya Madaff…

    “Bener banget Pak Noer…ada pencetusnya,meletup deh! hehehe….Mudah2an bisa mencapai level-nya Pak Noer,Amin…Tararengkyu ya Pak dah mampir dan tausiyahnya bener2 ngademin. Salam buat Nurul dan anak-anak…😀 “

  9. Hmmm…. kayaknya ada asap mengepul neh di kepala Madaff pas kejadian… Saya ajah yang ngebayangin serasa pengen ikut berteriak ke ibu2x nggak sopan itu… Yang bener aja… kok seenaknya meninggalkan tas begitu aja, padahal ada orang lain yang mau make kamar ganti itu… Hhhhh… si ibu itu memang perlu diomeli mbak… Salut!

    Wajar kalo Madaff merasa nggak enak sesudahnya… Wong pecinta damai, lembut, baik hati dan tidak sombong kok tiba2x seperti hilang kendali dan merasa jadi orang jahat… Kayaknya karakter Madaff sama dengan saya deh… Dari luar mungkin orang melihat saya lembut dan pendiam… padahal meskipun pecinta damai, saya pun akan berteriak saat hak2x saya diinjak2x.

    Jangan takut mbak, diam nggak selamanya emas. Hidup di tempat yang ganas seperti Jakarta memang memaksa kita untuk bisa kuat. Hidup Madaff!!!🙂

    *Toss dulu sama mba Fely. Give me five ,mba!*
    Saya ga sabar kok mba. itu buktinya terpancing jugah hahahaha….Diam emang ga selamanya emas. Setuju! Kalo diam jadi emas, wah…bisa banyak juragan emas di dunia ini, cukup kita diam saja. *ga nyambung dot kom* Emang paling kesel kalo ada orang yang songong bersikap sewenang2, membuat ego kita terluka, akhirnya memancing kemarahan! Hah! Ada-ada saja. Hidup jua mba Fely!Harus itu!”

  10. asallamualaikum……….
    ni ade ya………..
    pha kbr ??????
    udh hampir 15 tahun ya gak ada kbr berita ketemunya malah di sini……..
    uni d mana sekrang?……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s