Posted in Tentang aku dan pikirku

Karena sekolah bukan tempat penitipan anak

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Sampai berdebar-debar rasanya ingin mencurahkan semua yang  ada di kepala dan perasaaanku saat ini tentang betapa luar biasanya dua minggu yang kulewati di Sekolah Al falah Cibubur dalam mengikuti Program Pelatihan Orang Tua (PPOT).

Awalnya ta’jub juga dengan aturan di al Falah. Tak seperti sekolah lain yang menerima murid dengan syarat ini itu, tapi disini SEMUA anak di terima apapun kondisinya, sejauh quota nya masih mencukupi. Syarat wajib masuk sekolah ini adalah orang tua HARUS bersedia mengikuti Program Pelatihan Orang Tua I selama 8 hari, paling lambat 6 bulan setelah anaknya masuk di sini. di Al falah PPOT itu ada 6 tahapan, tapi yang wajib di ikuti orang tua hanya PPOT I yaitu tentang “Membangun 18 sikap Pada anak Usia Dini”

Sebelum kita masuk pada 18 sikap apa sajakah itu, barangkali kita perlu tau kenapa sekolah ini sampai mempunya kebijakan seperti ini. Landasannya sederhana saja : Untuk membangun anak, mutlak adanya kerjasama Tim Guru. Tim guru ini terdiri dari Guru di sekolah, Orang tua dan semua orang yang bersinggungan dengan anak. Kita harus tau apa yang dilakukan anak di sekolah, apa yang dilakukan oleh guru bersama anak, bagaimana caranya guru mendampingi anak, dan itu harus dilandasi kesamaan konsep dengan di rumah, Konsep ini harus merujuk pada Al Quran sebagai petunjuk hidup kita sehingga anak merasa terarah dan nyaman untuk bolak-balik dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Kita baca Al quran, kita harus bisa baca anak, dan harus bisa baca lingkungan. Kita mesti iQRo’ sepanjang waktu.

Beberapa hal mendasar yang di pelajari dalam PPOT, antara lain:

  • Kita harus menjadi pendengar yang aktif,

Artinya memberi kesempatan anak berbicara dengan kemampuan bicaranya yang sesuai tahap perkembangannya. Pastikan wajah dan atensi kita fokus padanya saat dia bicara,meski itu tampak sepele bagi kita. Ini membantunya untuk membangun otak pusat bicaranya. Dan pastikan juga kita bicara menggunakan tata bahasa yang terstruktur, SPOK-, ini penting  supaya anak tau bagaimana cara berbicara yang benar.

  •  Mencoba menyelami bagaimana anak bermain,

Dengan begini  kita bisa melakukan pendampingan bermain yang bermutu. Sering kali anak kita belikan mainan, kemudian kita temani dia bermain, tapi malah kita yang dominan dalam permainan tersebut, ” Ini taro disini, ini jangan di sana, harus begini dong caranya” dan sebagainya. Ingat, bahwa anak adalah Leader, dia adalah a decicion maker. yang boleh kita lakukan adalah melakukan pendampingan dan bimbingan. Di Al Falah kegitan bermain di bangun melalui tujuh Sentra: Sentra balok, seni, Imtaq,main peran kecil, main peran besar, sentara bahan alam dan sentra persiapan. Setiap sentra tidak berdiri sendiri-sendiri. Dalam sentra Imtaq misalnya, di dalamnya ada bermain balok, ada bermain peran dan sebagainya. Jadi yang disebut dengan bermain sambil belajar itu bukan lah ketika bermain anak hanya bermain, ketika belajar anak belajar sampai mukanya berkerut serius. Selama dua minggu observasi interaksi guru dan anak di Al Falah, sungguh mengharukan melihat anak yang begitu riang dan tanpa beban berada bersama gurunya. Ini baru bisa di sebut “sekolah adalah rumah kedua”.

  • Membangun klasifikasi

Bagiku pribadi, ini juga temuan baru. salah satu kegiatan inti belajar di Al falah adalah clean-up, beres-beres. Anak habis belajar dan bermain tidak melenggang begitu saja. Mereka bersama gurunya melakukan aktifitas beres-beres dengan menempatkan kembali semua alat dan bahan permainan kembali ke tempatnya. Mereka yang begitu imut-imut, menjadi belajar rapi dan terstruktur. Dan luar biasanya, anak melakukannya dengan senang hati, semangat dan tuntas. tujuannya bukan jangka pendek saja, sekadar ruangan jadi beres dan rapi. Tapi ini sangat berguna ketika dia dewasa kelak, memudahkan dia untuk teratur dan rapi struktur berpikirnya, mudah membangun klasifikasi abstrak seperti mana yang menjadi urusannya, mana yang bukan, mana yang boleh dia lakukan dan mana yang tidak. Kita bisa memulainya dari lemari baju kita dulu jika ingin belajar ini. Harus bisa mengelompokkan mana baju untuk pergi, baju untuk rumah, baju untuk tidur, tempat kaos kaki dan sebagainya. Pindah ke laci dapur, harus jelas mana tempat sendok makan, garpu atau sendok kecil, Selanjutnya bisa merambat ke ruangan yang lain, mengklasifikasikannya sehingga menjadi rapi. Jangan biasakan melayani anak dengan membiarkannya tidak bertanggung jawab atas barang-barangnya, membiasakan dia manja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, semua di ambilkan, semua di sediakan. Ingatlah, “jangan menyulitkan hidupnya hari esok dengan memudahkannya di hari ini”

Semahal apapun sebuah sekolah, tetap sekolah bukan ‘tempat buang anak’.Sering kali orang tua sudah merasa membayar mahal sebuah sekolah tapi tetap merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, lantas menyalahkan sekolahnya.Ingatlah  sekolah TIDAK MUNGKIN bisa membangun anak-anak sendirian, harus terjadi kerjasama guru dan orang tua dan ada jembatan antara rumah dan sekolah.

Upaya kita dalam menyamakan konsep-konsep berpikir kita di dalam membangun anak, memberi kesempatan kepada anak untuk menceritakan apa yang sudah terbangun dalam otaknya. dan kita harus syukuri setiap kemampuan yang dia bisa,sekecil apapun, rayakan dengan memberinya ucapan selamat, berikan apresiasi yang tulus dan serius. Ini akan membuat dia merasa  di pentingkan, bahwa dia sangat bermakna dalam kehidupan ini, dan dengan begini akan terbangun afeksi pertama dalam dirinya: Trust : kemampuan untuk mempercayai orang lain.

Berbahagialah menjadi orang tua yang mengantarkan anaknya menjadi orang yang berbahagia.

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

5 thoughts on “Karena sekolah bukan tempat penitipan anak

  1. Selamat untuk sekolah barunya, semoga ini yang terbaik untuk daffa.

    kalo idiom SA : Sekolah bukan bengkel ‘ketok magic’ (ditinggal, yang punya terima beres)

    “Alhamdulillah pak Arman… SA termasuk dalam list saya hehe…Bener banget, sekolah bukan bengkel ketok magic, saya sangat sepakat🙂 “

  2. uni……ambo copas kato2 yg di bwah ko buliah yo,

    Aku adalah angin,terkadang menjadi rumput,alang-alang,burung,ikan,dan batu….
    Menjadi bintang,matahari,bulan dan lautan….
    Kau masukkan aku kepada malam,aku menjadi malam…
    Kau masukkan aku kepada siang,aku menjadi benderang…
    Aku hanya ingin mencintai-Mu…
    Sekecil apapun rasa yang tumbuh
    Dalam pandangan-Mu,

    mokasih ni…..salam kenal un….

    mama Abin.

  3. Maaf, bisa minta alamat Sekolah Al Falah Cibubur? Jika ada kontak yang bisa dihubungi, akan lebih baik. Saya berencana mau Study Banding ke sekolah tersebut. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s