Posted in Tentang aku dan pikirku

Seberapa bermutunya kita?

Senin, 30 November 2009

Ini hari pertama PPOT (Program Pelatihan Orang Tua) di Al Falah. Sudah lewat 22 hari, dan aku mencoba memberanikan diri untuk menuliskannya di sini. Memberanikan diri?? Iya, karena setelah mengikuti pelatihan selama 10 hari ( 8 hari untuk PPOT I dan 2 hari untuk PPOT II ), aku merasa sangattt…sangatttt….telah banyak melakukan kesalahan  kepada putra semata wayangku… Melalui PPOT ini banyak tabir yang terbuka, banyak pelajaran yang di dapat dan kami para peserta beberapa kali meneteskan air mata, ingat dosa- dosa yang telah kami perbuat terhadap putra putri tercinta.

Jadi, kukatakan saja dari awal, bahwa apa yang kutuliskan ini adalah semata-mata pengingat untuk diriku sendiri,bahwa banyak sekali kesalahan yang telah ku torehkan sepanjang usia anakku, dan sangat tak ingin mengulanginya kembali. Kami berdua, selaku orang tua, mesti banyak-banyak belajar, banyak- banyak introspeksi diri. Seperti yang selalu di ingatkan oleh Bu Wismiarti, direktur Al falah, yang juga instruktur utama dalam pelatihan ini adalah: Iqro’ Sepanjang waktu.

Pesertanya ada 12 orang. sembilan orang adalah para pendidik dan pengelola sekolahan “(semoga Allah merahmati mereka para guru), dan  tiga orang adalah aku, dan sepasang kakek nenek yang subhanallah….(aku selalu mengingat mereka dalam haru), sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini. PPOT ini memang di syaratkan untuk orang tua murid, dan kebetulan cucu dari beliau juga baru masuk dan seperti Daffa, anak berkebutuhan khusus juga.

Ada 18 sikap yang akan kami diskusikan selama 8 hari ke depan. Hari ini di mulai dengan tiga sikap pertama, yaitu : MUTU, HORMAT, dan JUJUR.

Berhubung ini kali pertama aku ikut pelatihan yang tanpa modul, cuma di beri lembaran kertas kosong, alhasil hari pertama aku hanya banyak mendengarkan, terkesima dengan uraian kata demi kata dari Bu wismiarti yang sangat runut dan menyentuh hati. Betul kata seorang teman,” Ilmu itu ibarat piaraan. Kita harus mengikatnya agar dia tidak lepas, dan ilmu itu diikat dengan tulisan “

Mari kita coba dulu dari MUTU..

Masing- masing kami mendefinisikan apa arti kata MUTU. Muncullah definisi yang beragam, tergantung dari pengalaman dan pemahaman seseorang. Membuat definisi ini ternyata ga sepele lho, karena sejatinya kita mesti TAU apa yang sedang kita ucapkan. Ngomong mutu tapi tidak tau apa itu mutu, bohong namanya.

Dari berbagai definisi itu, dapat kita ramu bahwa untuk mencapai Mutu kita mesti punya Standard. dan standard siapa yang kita pakai? Tentu standar nya Allah, sang Pemilik Hidup kita. Dan tugas kita adalah  mencari tau apa yang Allah inginkan dari kita.

Jika kita masih punya orang tua, apakah sebagai anak kita cukup bermutu?

Jika kita punya pasangan hidup, apakah sebagai istri atau suami kita sudah cukup bermutu?

Jika kita punya saudara, apakah kita sudah menjadi adik/ kakak yang bermutu?

dan jika kita di titipi Allah anak-anak, apakah kita sudah menjadi ayah dan ibu yang bermutu?

Kita harus tadabbur Al-Quran jika kita ingin tau apa yang Allah harapkan dari kita dalam menunaikan semua tugas  kita di bumi Allah ini. Karena bila Al Quran tidak kita pelajari, maka kita akan menjadi PEMBOHONG yang besar!

Tentang bermutu dalam mengasuh anak misalnya, sudahkah kita memberikan makanan yang bermutu untuknya? Sudahkah kita berucap kata-kata yang bermutu untuk di dengar telinganya? Sudahkan kita mengisi waktunya dengan hal-hal bermutu, atau waktu berlalu begitu saja?Bahkan jika kita dalam perjalanan, sudahkan kita membuat perjalanan yang bermutu? Atau jangan -jangan anak sibuk sendirian mengamati lalu lalang kendaraan sedang kita larut dalam lamunan?. Kita bisa ajak anak untuk Iqro’, misalnya dengan mengajak dia untuk menghitung ada berapa mobil yang warnanya kuning, atau berapa mobil yangrodanya lebih dari empat . Jangan tau-tau sudah sampai, namun anak-anak tidak mendapatkan apa-apa…Karena bagi anak: Setiap kejadian adalah gambaran dari proses belajar.

Menurut Bu wismi, standar seorang guru anak adalah seseorang yang alQouran menjadi isi kepalanya (Masya Allah). Kita bisa mulai dengan membaca satu ayat setiap hari, kemudian kita pikirkan maknanya. Kita membaca basmalah, misalnya. Kita resapkan ke dalam hati bahwa untuk memulai suatu pekerjaan kita sangat butuh pertolongan Allah dengan segala kasih dan sayangNya…Dan itu kita ajarkan kepada anak kita untuk bersikap rendah hati dengan mengucap basmalah setiap kali memulai bekerja.

Yang paling menakutkan dalam hidup ini adalah: Kita merasa sudah benar, kita merasa sudah sangat bermutu, namun Allah menggeleng,: ” Bukan itu yang Aku mau ” ….

Teruslah mencari apa yang Allah mau .

 Dalam surah Ali Imran (3) :110 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. “
 

 

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

3 thoughts on “Seberapa bermutunya kita?

  1. aih.. semoga besok diriku jadi orangtua yang bermutu.. ^^
    tapi sebelum jadi orang tua bermutu, jadi anak muda bermutu dulu ah.. :))

    ” benerr bangetttt ituuuu, moga2 setelah punya anak, tau susahnya jadi orang tua, bisa menjadi anak yang bermutu, meski dulunya mungkin tidak😦 Amin.. Makasi mba tika yah…”

  2. Assalamu’alaikum, saya sedang membuka ppot al-falah. ketemu dgn blog mb. saya rencananya mau ikutan PPOT pertama tgl 22 feb 2010, doakan ya, supaya bisa kuat untuk mengikutinya. kita bisa saling silaturahmi di fb alimufrod ramadhan. saya tinggal di ponpes hidayatullah depok (0813 1100 4026)

    “waalaikumsalam…..waaa, selamat mendapat pencerahan yang luar biasa…saya PPOT nya bareng dengan guru2 dari ponpes hidayatullah depok dan surabaya, juga kalimantan…Kalau saya sebut nama, ibu insyaallah kenal…Insyaallah, nanti saya add yah….”

  3. hallow mbak.. salam kenal yaa. tau blog ini dari tempat feli.. hhmm, anakku yang terakhir jg didiagnosis ADHL n sekarang lagi rajin terapi okupasi. sepertinya terapi SI akan menyusul kemudian. sepertinya harus belajar banyak dari mama daffa nih.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s