Posted in komunikasi-sosialisasi, Milestone, Tentang Daffa

Sepinya Daffa di 3 September 2007

Di salin dari blog lama di friendster

 

Terbayang masa aku kecil,…. Tak pernah pusing mau main dimana..Pergi pagi, pulang sore.Aneka permainan rakyat aku kuasai. Aku pernah sembunyi di kubangan kerbau tatkala main petak umpet, batalin puasa diam-diam di rumah seorang teman, sampe makan jambu orang tanpa izin. Aku pernah digigit anjing tatkala dengan songong menggertak anjing yang sedang makan. Masa kecilku penuh kesibukan,canda tawa juga berantem dengan teman.

 

Berbeda dengan Daffa,….. 

Memang usianya masih terlampau kecil untuk mengalami petualangan seperti yang pernah aku lewati..Tapi rasanya, usia 2 tahun 1/2-ku mungkin tidaklah sesepi Daffa….Meski tak ada kenangan yang bisa aku ingat pada usia segitu, aku tau bahwa aku selalu dikelilingi banyak orang. Kakakku saja sudah 3, dan aku sudah punya 1 adik laki-laki. Belum tetanggaku yang hilir mudik dan sanak kerabat lainnya yang selalu ada.Aku yakin aku tak pernah sepi.

 

Tapi tidak dengan Daffa. Sehari-hari di rumah hanya ditemani aku dan si mba’. Ditambah papanya pada malam hari. Di Surabaya ini kami tak punya sanak family yang bisa dikunjungi.Teman-temanpun kebanyakan adalah istri-istri karyawan kantor suamiku.Juga tetangga-tetangga baru dan ibu-ibu pengajian di mesjid.Tapi intensitas pertemuannya lumayan jarang, sehingga untuk ngerecokin ke rumah mereka rasanya sungkan.

 

Terus terang aku selalu bingung mau ajak Daffa main ke rumah siapa. Ke rumah tetangga yang punya anak kecil, belum semuanya akrab denganku.Paling ya tetangga terdekat saja. Itupun mesti lihat sikon dulu, ada anaknya ga di luar sedang main? Lagi ada tamu ga?Kalo pintu rumahnya masih tertutup, meski terdengar suara anaknya dari luar, rasanya ga enak menyambangi.Begitulah,….Dan kupikir, orang lain pun mungkin begitu. Tak bisa sembarangan bawa anaknya main ke rumah orang, pasti khawatir mengganggu.

 

Suatu kali, anak tetangga main ke rumahku. Aku tentu saja senang. Wah, Daffa ada teman nih! Daffa sendiri jangan ditanya. Tiap kali ada anak sebaya dia datang, dia girangnya bukan main. Apalagi kalo perempuan dan cakep kaya gini?Hm,….keluar genitnya. Lirik-lirik, ketawa-ketawa sok imut, dan muter-muter salah tingkah.Meski anak perempuan ini juga senang main di sini, tidak begitu orang tuanya. Anaknya sampai dipanggil berkali-kali di suruh pulang. Kupikir, mungkin anaknya mau diajak kemana atau belum makan, kok anaknya sampai dipaksa begitu. Mba’nya yang bertugas memanggil juga serba salah ekspresinya.

 

Dalam hati aku bertanya-tanya, apa ada hal lain yang kurang berkenan di hati orangtuanya? Kebetulan mereka baru beberapa bulan menjadi tetanggaku. Besoknya, aku punya kesempatan bertemu ibunya. Anaknya terlihat berminat main di rumahku, tapi tampak takut-takut. Aku tanya saja pada ibunya, “Bu, W**** main di sini ya? Boleh?”.Ibunya agak kaget aku bertanya separo memohon seperti itu. Dia mengijinkan dan seperti memberi penjelasan, dia mengungkapkan bahwa sebenarnya dia lebih suka rumahnya yang dikunjungi dari pada anaknya yang main kerumah orang.Karena,katanya, anaknya nakal,suka pegang-pegang barang dan suka ingin tau. Yah,….kalau begitu aku juga sama sebenarnya. Takut anak kita ngerepotin kalau sedang di rumah orang. Tapi sekali-kali ga pa pa toh?

 

adinya, kalau sedang bingung mau ajak Daffa main ke mana, aku lebih suka ngajak dia ke rumah temanku yang juga punya anak kecil. Lebih nyaman untukku, karena aku tak perlu merasa tak enak hati. Tapi rumah mereka agak jauh, butuh transport extra buat ke sana. Lagi-lagi tak bisa sering-sering jadinya.

 

Teman favorit Daffa adalah anak tetangga depan. Lagi ngantukpun, kalo dengar suara temannya, Daffa langsung lari ke jendela, ngintip. Biasanya anak ini suka main ke rumah. Alhamdulillah ga pernah dilarang orang tuanya. Daffa juga kadang main ke sana. Tapi mereka berdua ga akur.

 

affa yang belum mengerti cara berteman, tiap kali ke sana yang di cari hanya BOLA. Dan bola ini harus di bawa pulang alias minjam. Temennya jadi jengkel,dia tak suka barangnya dipinjam(tapi mainan Daffa ga apa-apa kalo dia bawa pulang hahaha).Mereka juga sering rebutan barang. Ga sekali dua kali Daffa hampir kena bogem mentahnya. Tapi Daffa ga pernah kapok main sama dia.

 

Karena sekarang anak ini sudah sekolah, Daffa jarang ketemu. Suatu kali Daffa kuajak main ke rumahnya. Sampe pagar Daffa di hadang ,”Ade’ Daffa ga boleh masuk!Ga bole main ke sini !”. Daffa yang ga ngerti dia ngomong apa, tetap ngotot mau masuk.Daffa udah mupeng banget liat bola basket yang mejeng di teras. Orangtuanya sampe ga enak hati liat tingkah anaknya,tapi ga bisa berbuat apa-apa selain minta dimaklumi kalau anaknya lagi angot jeleknya.

 

Daripada terjadi ‘pertumpahan darah’, aku paksa Daffa pulang dengan hati nelongso….Duh, kasiannya dikau ,nak…Mau main malah ditolak.

 

Pernah juga aku ajak Daffa sore-sore ke tanah lapang.Di sana, biasanya banyak anak-anak bermain. Dan benar! Wah, aku girang, asyik….Daffa ketemu teman sebaya nih….Daffa malah sudah duluan lari nyamperin anak-anak itu. Dia tampak antusias.Ternyata , Daffa hanya tertarik dengan bola yang sedang dimainkan. Dia ngotot untuk memiliki sendiri. Tentu anak-anak lain terganggu. Aku bujuk daffa untuk tidak merebut. Daffa tidak mau. Akhirnya, aku bawa pulang saja, meski harus bersimbah peluh karena Daffa meronta-meronta.

 

Begitu sulitnyakah mencari teman untuk anakku? Hatiku sakit memikirkan ini….

 

Hari ini,18 Februari 2010…

 

Sebelum berangkat sekolah, Daffa morning report dulu ke ibu sebelah, pamit dan cium tangan…

Pulang sekolah, lebih sering assalamualikumnya kedengaran duluan di sebelah dari pada di rumah, dan sangat susah membujuknya pulang  ke rumah…

Daffa punya teman di sini, bisa hapal nama-namanya, dan mulai bisa bercerita sedikit-sedikit kepada abang2 nya (anak tetanggaku,red).

 

Ini menjadi ibroh bagi kami, bahwa jangan tenggelam dalam sedih hari ini, setelah hujan, mungkin ada pelangi…

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

4 thoughts on “Sepinya Daffa di 3 September 2007

  1. Alhamdulillah De…Rania perkembangannya sesuai usianya🙂 cuma yaaa entah kenapa Rania kurang tertarik tuh main sama yang seusianya…sukanya sama yang udah gede malah tua sekalian…hehehe Rania suka manggilin bapak2 or kakek yang lewat depan rumah😀 hmmm kali salah bundanya juga nih nggak sering ngajakin Rania gaul ama temen sebaya…habis belakangan momentnya gak tepat mulu…lagi musim flu, udah gitu hujan and angin kencang ..yaaa Rania lebih banyak dirumah deh…

    1. Mba, mohon maaf saya kehilangan hp dimana semua no penting ada di sana termasuk terapis2 anak ssya.Maaf tak bs membantu. ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s