Posted in Tentang Daffa

Dokter yang ga bangeeeeeett deeeh!

“Ini udah tiga tahun yang lalu, dan Daffa alhamdulillah sudah jauuuuhh lebih baik dari masa itu. Cuma kalo inget pengalaman ini, masih juengkel jugah..Tapi sudahlah, jadiin kenangan aja, insyaallah indah pada waktunya :)”

January 5, 2008

Tahun 2008 ini, kami bertekat untuk meningkatkan usaha kami dalam berbagai aspek kehidupan pribadi dan keluarga.Salah satu yang terpenting adalah mengupayakan supaya Daffa mendapatkan penanganan terbaik dan semestinya untuk mengatasi masalahnya.

Kami memulainya dengan membawa dia ke seorang dokter spesialis rehabilitasi medik yang direkomendasikan oleh dokter perusahaan dan sebenarnya beberapa orang juga sudah menyarankan untuk konsultasi dengan beliau ini. Katanya ,beliau yang terbaik di Surabaya.Maka,berangkatlah kami …

Sejujurnya,kami beharap akan adanya hal baru sekaligus pencerahan dari dokter ini.Sudah 1 tahun Daffa terapi, meski dalam hal kepatuhan dan perhatian ada peningkatan,tapi kemampuan bicaranya masih jauh dari yang diharapkan.But,you know what?

Masuk ke ruang prakteknya,aku harus berhadapan dengan resepsionis yang jutek.Tak ada salam sapa, mukanya bener-bener asem.Jawaban pendek sih boleh, tapi kalo nadanya menghentak? Tak sadar, aku jadi ikut-ikutan menjadikan air mukaku sekaku triplek.Aku kemudian menarik nafas, dan berusaha sabar…

Tapi ternyata,dokternya lebih parah lagi.Masuk ke ruang konsulnya, auranya udah kerasa ga enak.Biasanya dokter-dokter yang pernah kutemui,mereka duduk di belakang mejanya dengan jas putihnya.Meski tak semuanya punya senyuman yang menenangkan, tapi setidaknya mereka menatap dengan welcome dan mempersilakan duduk.Dokter perempuan ini,uniknya,dia memanggil sendiri pasiennya untuk masuk (mungkin kebetulan saja atau memang kebiasaan),tanpa jas formalnya dan tanpa keramahan sedikitpun.Aku dan suamiku masuk membawa Daffa.

Dalam ruangan itu, ternyata banyak mainan anak-anak seperti bola-bola kecil dan lainnya.Seperti biasa,Daffa langsung melesat,pegang sana pegang sini. Kami yang baru sekali ini ke sana, tak enak membiarkan Daffa. Jadi aku pegangi Daffa,berusaha mendudukkannya di pangkuanku.Dokter ini langsung bereaksi,”Bu, dudukkan saja dia di bawah.Letakkan mainannya di sana.Ibu awasi saja,jangan sampai dia merusak!”.Aku yang terkaget-kaget dengan ’ketegasan’-nya,mencoba menurunkan Daffa yang telah berhasil kududukkan di kursi. Aku disengat lagi,”Ibu ini, dia sudah bisa duduk di atas, ya sudah!Jangan dipaksa turun.Saya tidak bisa menilai dia kalau ibu intervensi terus.”Aku tak bisa lain selain terdiam dan menuruti apa maunya. Suamiku tampak surprise juga.

Tanpa tedeng aling-aling dia langsung memvonis.”Nah, dengan melihatnya saja, saya sudah tau.Anak ini HIPERAKTIF! ADHD.” Aku hanya bisa terdiam dalam bingung. Apa iya segampang itu mencap seorang anak Hiperaktif?Daffa memang aktif, tapi dia bukannya tidak bisa diam sama sekali. Anak ADHD, tak bisa lebih 5 menit menekuni sesuatu, tapi Daffa bisa konsetrasi untuk pekerjaan yang dia sukai lebih dari 10 menit.Sampai setengah jam juga bisa kalau dia benar-benar suka.Tapi dokter ini, hanya dengan sekali lihat katanya,tanpa empati sedikitpun menganggap anakku Hiperaktif dan merasa tak perlu lagi menggali dari kami bagaimana Daffa sehari-harinya. Tak kupungkiri, kalau aku boleh berbuat sesukanya, akan kutinggalkan ruang prakteknya dan kubanting pintunya!

Tapi kami tetap didalam,untuk mendengarkan pendapatnya yang ’ahli’. Daffa yang memang belum paham situasi, dengan asyik berjalan kian kemari,mencoba semua mainan baru yang dia lihat.Sampai suatu kali, Daffa menginjak tepian gorden dan keserimpet sampe oleng.Dokternya langsung nyelutuk,”Sekali lagi begitu, jebol gordennya!”sambil memandangiku seolah-olah aku tidak bisa mengawasinya.

Akupun berdiri dari kursiku,memutuskan untuk lebih mendampingi Daffa supaya jangan sampai merusak barang-barangnya.Biar saja dokter ini bicara dengan suamiku saja.

Daffa sekarang mulai tertarik dengan tangga pijakan untuk naik ke ranjang pemeriksaan. Aku sebenarnya ingin melarang, tapi aku khawatir suaraku akan mengganggu si dokter yang sedang menjelaskan ini itu pada suamiku.Jadi, aku peganggi saja Daffa supaya tidak terjatuh dan berusaha mengalihkannya dari pijakan itu.Daffa,seperti biasa, tidak mengalah begitu saja.Sang dokter yang bermata awas, langsung menegurku,”Ibu,…Ibu akan membiarkannya naik atau tidak?”Aku jawab,”Tidak,dok””.”Kalau begitu,katakan TIDAK dengan tegas!Jangan membuat anak bingung dengan menarik-nariknya tapi kita tidak melarangnya berbuat demikian”.Lalu dia berceramah tentang cara berkomunikasi dengan anak ADHD, yang sebetulnya kami juga sudah cukup tahu.

Hasil dari konsul ini, dia menganjurkan Daffa untuk terapi wicara 2 kali seminggu di tempat prakteknya.Kamipun bersiap-siap keluar dari ruangannya.Dan seperti yang sudah kuduga, Daffa tidak mau mengembalikan mainannya.Akupun terpaksa tegas, dan Daffa ngomel dalam bahasa planet.Inipun dia komentari.”Anak ini sebenarnya sudah ingin ngomong.Hanya saja,dia tidak mendapatkan stimulus yang seharusnya.”Plak!Aku serasa ditampar.Ku gendong paksa Daffa, aku keluar tanpa memandang dokternya.Apalagi mengucapkan terimakasih (meski basa-basi).Terpikirpun tidak.

Urusan dengan si respsionis kuserahkan pada uda.Aku kenyang berhadapan dengan jutekershari ini.Kalau dia jutek lagi seperti tadi, aku tau uda bisa menghadapi dengan berkepala dingin.Aku sibuk menenangkan Daffa yang ngamuk karena keinginannya tidak terpenuhi.Kamipun pulang dalam diam.Memikirkan kejadian tadi.Tiba-tiba suamiku bersuara,”Dokternya galak ya?”Ada nada geli dalam suara uda.Untuk pertama kalinya setelah melewati pintu ruang praktek si dokter,kami bisa tersenyum,meski nyengir dan geleng-geleng kepala.Heran, bagaimana bisa dia direkomendasikan begitu banyak orang ya?

Setelah kuingat-ingat dari awal sampai akhir, TIDAK SEKALIPUN dokter ini mencoba untuk ’say hello’ dengan Daffa.Seolah-olah dia tak perlu membuktikan sendiri apakah Daffa akan berespon atau tidak.

Benar-benar tidak therapeutik!

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

6 thoughts on “Dokter yang ga bangeeeeeett deeeh!

  1. *Arrggggh… jadi ikutan esmosi*

    Tapi kalau dipikir-pikir mungkin kita harus menghadapi orang-orang jutek begitu untuk menyentil pride kita, biar kita lebih gigih berusaha nyari cara yang lain. Alhamdulillah, dengan kasih sayang Allah, tanpa harus berurusan dengan dokter jutek itu ternyata toh bisa menemukan orang-orang yang empatik, yang gak perlu ilmu setinggi langit tapi punya ketulusan membimbing Daffa.🙂

  2. @ recup:
    pada akhirnya, kita sampai pada kesadaran, bahwa itu memang jalan dariNya untuk mencapai suatu tujuan… Seperti yg dirimu katakan, ketika kita bertemu orang yang simpatik, kita jadi merasa sangat berterimakasih karena pernah rasakan pahitnya di lecehkan.

  3. Pagi mbak, ini saya barusan baca artikel mbak.
    dokter mana ya mbak itu?
    karena saya juga butuh terapi bicara buat adek saya yang habis kecelakaan mbak, karena lokasi saya juga di surabaya,
    mungkin ada informasi mbak?

    terima kasih,
    salam kenal.

    1. Kejadian ini sdh cukup lama, dan sy bukan pengingat yg baik. Jujur saya sudah lupa nama dokternya, mohon maaf ya mba…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s