Posted in Tentang aku dan pikirku

Satu bulan Kayyisa: struggling with breastfeeding

Lama ya,aku tak apdet blog ini…

Bukannya tak pernah mencoba, tapi selalu berakhir blank dan gagal terbit…padahal anak gadisku,Kayyisa Rahmayuvi Syakira,sudah menambah banyak sekali warna dalam keseharianku….

Lahir di 12 Juni 2011, hari ini berarti usia Kayyisa sudah 3 bulan 2 minggu 1 hari…

Mengingat sejarah Abangnya Daffa yang tidak langsung mendapatkan ASI semenjak lahir, dan tidak berhasil mendapatkan ASI ekslusif dariku, maka sejak dari dalam perutku, aku sudah berjanji pada Kayyisa untuk berusaha sebaik mungkin untuk memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama hidupnya,lanjut menyusui sampai minimal usianya 2 tahun nanti…

Menyusui adalah hal yang alami.

Tapi pengalamanku dengan Abang Daffa membuatku bersiap diri, karena mungkin akan ada kendala yang harus kuhadapi…

Aku memulai dengan basmalah, berniat karena Allah,akan menyusui bayiku seperti termaktub dalam QS.Al Baqaroh :233

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan

Kemudian aku tambahkan pengetahuanku tentang breast feeding, lewat buku, internet, dan sharing dengan teman.

Usia kandungan 34w, berkunjung ke Klinik Laktasi St. Carolus

Berusaha setiap hari melakukan breatscare seperti yang di ajarkan di Klinik Laktasi

Saat persalinan, agak ‘maksa’ ke perawat untuk membiarkan kami menuntaskan proses IMD sampai tuntassss, alhamdulillah bisa IMD selama 1,5 jam pertama hidupnya .

That’s really a precious time , memeluk bayi mungilku di atas dadaku, melihatnya merambat dan menjilat mencari sumber cairan emas kehidupannya…

Berpisah satu jam dengannya untuk di bersihkan, Kayyisa kembali dalam pelukku, bukan rooming-in lagi, tapi bedding-in. Dia tidur dalam pelukku…

Bahkan setelah berjuang selama 12 jam untuk bisa bertemu dengannya, aku bahkan belum merasa lelah untuk berkali-kali terbangun menyusuinya,sampai pagi…

Aku juga tak khawatir ketika 2 hari pertama,ASI ku hanya keluar beberapa tetes saja. Aku ingatkan diriku, Allah sudah siapkan untuknya cadangan makanan yang di bawanya sejak dalam kandungan untuk 72 jam pertama. Yang dia dan aku butuhkan saat itu adalah belajar bagaimana menyusu dengan benar.

Kayyisa sempat kuning, aku juga tidak panik.

Kupelajari lagi tentang jaundice, adalah fisiologis untuk mengalami kuning sesudah 24 jam pertama, memuncak pada hari ke 3-5, nanti akan hilang pada 1-2 minggu usianya. Dokter menganjurkan untuk langsung cek bilirubin sebelum jadwal kontrol di hari ke 4 tapi tidak kulakukan. Tidak ada indikasi dia harus di tusuk-tusuk seperti itu. Aku ke DSA lain, dianjurkan bila kuning masih berlanjut sampai seminggu, maka cek bilirubin. Nah, ini rasional, tapi juga tidak kulakukan karena kuningnya tidak memburuk. Kayyisa hanya butuh ASI,ASI,dan ASI.

Nah, si ASI inilah yang sedihnya tidak mancur seperti kebanyakan ibu yang lain. Aku sempat worried gara-gara frekuensi BAK nya jaraaaang sekali. Indikasi dia tak cukup cairan kan? alhamdulillah dapat pencerahan dari milis sehat. Bahwa untuk bayi usia 1 hari, BAK nya minimal 1x, usia 2 hari minimal 2 kali, sampai usia 6 hari dan seterusnya BAK minimalnya 6x dalam 24 jam.

Namun Kayyisa BAK nya jarang bisa sampai 6x dalam sehari.

Berat badan lahirnya yang 3240g sempat turun pada hari ketiga menjadi 3000 g. Aku masih tenang, penurunan Berat badan bisa terjadi pada hari2 pertama kehidupan sampai 10% berat lahir.

Tapi ketika usia 14 hari, berat badannya masih 3000 gram juga, di mana semestinya dia sudah kembali ke berat badan lahir, aku mulai ketar-ketir.

Setiap hari ku catat berapa kali pipisnya, baru bisa lega jika popok basah mencapai 6 kali, tapi itu kadang tidak tercapai…

Aku berusaha tidak panik, aku coba susui dia terus,namun ,yang menjadi kendalaku adalah Kayyisa terlalu anteng, tidurnya pulaaasss sekali, tak terganggu dengan kebrisikan seperti apapun di sekitarnya. Waktu aqiqah,dia nyaris tidur sepanjang hari,padahal suasana rumah sudah seperti orang kenduri *yah,lebih kurang begitulah….:P* Tapi tetap kucoba untuk membangunkan dan menyusui dia.

Malam barangkali dia bangun? Jarang sekali… Dia baru nangis kejer kalo popoknya di buka untuk di bersihkan dan di ganti, bahkan kuyup karena pipis tak jadi soal baginya…

Usia 3 minggu, berat badannya 3100 gram. Naik sedikit, tapi jauh dari harapan.

Aku mulai bolak-balik baca tentang kecukupan ASI, sharing di mailing list, belajar latch-on dan memperbaiki nya, rajin stimulasi produksi ASI dengan cara sering memerah, sebisa mungkin langsung setelah menyusui Kayyisa, tak peduli berapa hasilnya. Toh, cuma kasih sinyal ke otak,” Oiii…aku butuh lebih nih, produksi lagi dooongg…” Secara hukum ASI itu kan Supply on demand. Semakin sering di susui, diperas atau di pompa, maka akan semakin banyak produksinya….Seharusnya begitu kan? tapi ASI ku jika di perah kadang basahin pantat botol saja tidak😦

Ibu menyusui tidak boleh stress, tapi bagaimana caranya supaya tidak kepikiran?

Meski baca di kellymom.com, bahwa tidak ada pengaruhnya makanan tertentu terhadap produksi ASI, itu hanya sugesti, aku tetap saja coba makan yang di sarankan banyak orang. Sayur bayam,katuk, banyak minum air, kacang-kacangan,sari kurma, habbatusauda,dan sebagainya ku libas saja. Tapi si ASI tak jua kunjung membanjir. Oh, aku tak butuh dia membanjir, aku hanya butuh dia CUKUP untuk anakku. Tapi sepertinya tidak, jika di lihat dari kenaikan berat badan dan frekuensi Buang air kecilnya…

Usia 4 minggu, meski mungkin terlambat sebenarnya, aku konsultasi ke konselor Laktasi.

Di lihat caraku menyusui, di bantu untuk memperbaiki latch-on nya.

Berat badan Kayyisa saat itu sudah 3200 gram, sama dengan berat badan lahirnya.

Dan untuk pertamakalinya aku sadar apa artinya itu : Kayyisa gagal tumbuh !

Dan jika di plot di Growth Chart WHO, posisi Kayyisa sudah hampir berada di percentil 3. Padahal berat badan lahir di percentil50.

Terjun bebaaass!

ingin menangis sejadi-jadinya, tapi masih bisa ditahan, bersama ayahnya kami pikirkan langkaj selanjutnya…

Terpikir susu formula?

Tidak, aku tidak akan menyerah secepat itu.

Apalagi jika kita mengacu pada WHO, ada tahapan pemberian makanan pada bayi di bawah 6 bulan:

  1. Menyusu langsung pada ibu
  2. Minum ASI perah ibu
  3. Menyusu pada ibu lain, atau minum ASI donor
  4. Susu formula

Aku sudah lakukan yang pertama dan kedua, dan sepertinya melihat keadaan Kayyisa sekarang, meski belum lazim, option berikutnya adalah mencari ASI donor,minimal untuk catch up berat badan Kayyisa yang jauh dari standar.

Tentang ASI donor ini, aku tak ingin membahas panjang lebar… Dalam Al Quran, surah yang sama, Allah juga sudah berikan lampu hijau:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin  anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan

Di Rumah Sehat tempat aku konsultasi laktasi itu, sudah tersedia ASI donor yang siap di gunakan berupa ASI perah yang dibekukan didalam freezer. Konselorku memilihkan ibu susu untuk Kayyisa, seorang muslimah, punya satu anak perempuan berusia 7 bulan, dan sudah di tes kesehatannya, semua OK. Sebenarnya hari itu juga mau langsung bertemu dengan si ibu susu, tapi ternyata beliau kena macet di jalan, sedang kami harus pulang. Jadi dengan ijinnya ASI perahnya di bawa pulang dulu. Berhubungannya lewat sms dan telpon dulu.

Programnya, aku perbaiki latch on selama 3 hari ini, sering di susui,perah ASi dan banyak minum air putih,lalu di pantau lagi berat badan Kayyisa.Setelah itu baru mulai di kasih suplemen ASI donor. Namun barangkali karena si Ayah belum merasa mantap, dia meminta kami untuk menunggu sampai 1 minggu, baru mulai ASI donor.

Bertahan sampai hari ketiga, aku timbang Kayyisa,belum ada kemajuan. Ku email ayahnya,-karena kalau bicara langsung aku khawatir aku akan menangis sehingga bahasaku kacau-, aku mengajaknya mempertimbangkan untuk segera kasih tambahan ASI donor untuk Kayyisa, karena aku merasa sudah bukan waktunya lagi menunggu, atau kita akan menjadi terlambat sekali menolong Kayyisa. Aku juga ungkapkan, bagaimana mungkin oksitosinku,-hormon menyusui yang  akan release jika si ibu relax-, bisa bekerja dengan baik jika perasaanku galau, merasa sudah membuang-buang waktu anakku, merasa gagal sebagai ibu dan segala rasa yang mungkin hanya aku dan Allah yang tau…

Akhirnya si Ayah setuju untuk memulai pemberian suplementasi di hari itu juga. ASI perah pun di cairkan,di hangatkan dan di sendokkan ke mulut Kayyisa. Air mataku menetes. Antara syukur dan sedih.

Bersyukur karena akhirnya Kayyisa mendapatkan nutrisi tambahan ASI.

Sedih, karena itu  bukan ASI dariku…

Maafkan Bunda,sayang….

tidak sempurna untukmu…..

hanya inginkan yang terbaik untukmu…

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

2 thoughts on “Satu bulan Kayyisa: struggling with breastfeeding

  1. Mba,skrg kayyisa umur brp?coba kembali lg ke dokter AP, anakku jg tongu tie type 3, umur 2 hari incisi n blm sempet tjd penurunan prod asi…tp setauku dari Dr AP,banyak yg incisi di atas sebulan mmg tjd penurunan prod asi,tp bisa diatasi mba asal rajin kontrol ke beliau…semangat mba🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s