Posted in Uncategorized

Fafirruu ilallaah..

Oleh seorang sahabat: Ika aryani

“Bisa ga ya anak sy disembuhkan?”
“Aaaah… apa sih yg gak bisa buat Allah?”

Mungkin dialog spt inilah yg berkecamuk dlm hati kawan sy. Mereka, sepasang suami istri super sabar, dikaruniai Allah sebuah ujian: seorang anak dengan special needs.

Sy bertemu dengan anak itu. Seorang anak usia 10-11 tahun. Saat melihat teman-teman ortunya datang, si anak langsung menyambut. Ia sodorkan tangan, salim tangan, seulas senyum tersungging di bibirnya, sambil berucap, “assalamu’alaikum tante..”. Ramah sekali. Santun.

Sekilas tidak ada yg spesial dari dia. Dia tampak seperti anak kebanyakan. Ramah. Santun. Tapi bila anda mengenal anak ini sejak masa bayinya, mungkin anda akan tercengang. Kok bisa ya dia seramah itu?

Yup. Anak ini terlahir dengan gejala autisme.
Sebuah sindrom yg membuat anak jd terasing dari sekelilingnya. Sulit berkomunikasi. Apalagi mengharapkan mereka tersenyum dan menyapa duluan, itu rasanya mustahil.

Begitu pula anak ini. Saya ingat di masa balitanya, anak ini begitu “berbeda”. Ia sibuk sendirian, tidak melakukan kontak mata dengan oranglain, apalagi berkomunikasi. Ibunya susah payah menyuapinya makan dan berkomunikasi dengannya. Benar-benar dia ‘teralienasi’ dengan lingkungannya.
Lantas, bagaimana dia kini bisa berubah? Bagaimana mungkin dia kini punya kemampuan berkomunikasi yg sama baiknya dengan anak-anak biasa? Bagaimana cara si ibu merubahnya?

“Ah, itu semua Allah yg merubah mba”
Jawab si ibu.
But yes, she did struggle for him.

Sejak bayi, si ibu sudah wara wiri membawa anaknya terapi ke sana sini. Mulai jakarta sampai surabaya. Tak kurang 6 sekolah dijajal si ibu semenjak anaknya usia 2 tahun. Tapi sekolah-sekolah special needs tersebut tidak memberikan perbaikan apa2 buat anaknya. Justru malah membuatnya makin parah.

Sampai suatu ketika Allah tunjukkan ia pada sebuah sekolah istimewa. Sebuah sekolah yg sangat-sangat peduli pada perkembangan anak dan jiwanya. Jangan tanya berapa SPPnya ya. Pastinya muaaahall sangat. Untuk anak dengan special needs, SPPnya sampai melebihi UMR Jakarta saat ini. Dan itu biaya 6th lalu. Sangat mahal.

Tapi, Alhamdulillah, ternyata dari sekolah itulah jalan kesembuhan itu terbentang.

Untuk meringankan biaya, sekaligus demi belajar lebih banyak lagi tentang dunia anak, si ibu pun menjadi guru di sekolah itu. Sekolah ini mmg serius. Biaya mahalnya diinvestasikan balik untuk pendidikan para guru. Tak tanggung2, para ahli pendidikan dari amerika pernah diundang sekolah demi untuk mentraining para gurunya. Gak rugi jadi guru di sekolah ini. Ilmunya luarbiasa. Dan ilmu itulah yg diterapkan kawan sy pada anaknya yg autis.

Dan demikianlah, si anak bersekolah di sana sejak TKnya. Dan pelan2 perubahan itupun mulai tampak. Dia terdaftar sbg murid dengan ‘special needs’ di sekolah itu. Tapi lambat laun label ‘special needs’ itu mulai luntur. Ia mulai membaur spt biasa dengan anak2 lainnya. Ketika akhirnya ia pindah ke SD lain, ia pun masuk sbg siswa biasa. Bukan lagi siswa dengan catatan ‘special needs’. Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksinya memang sudah sama dengan anak2 biasa. Subhanallah.

Saya perhatikan anak itu sepanjang acara.
Beneran. Ga ada gejala-gejala autisme sama sekali. Dia menyapa anak lain. Mengajaknya bermain, lalu mrk berdua pun main. Lalu ketika temannya lelah bermain, ia pun mencari kegiatan lain. Ia ambil buku, dan membaca. Bukunya bukan buku anak2 biasa lho. Tapi buku ttg siroh nabi dan sahabat. Dia membaca dengan antusias buku itu. Lepas membaca, ia ambil balok2 dan dirangkai jd mainan imajiner.
Aktif.

Subhanallah.
Beda sekali dengan masa balitanya. Sungguh.
Saya pernah dengar bahwa katanya autisme itu “tidak bisa disembuhkan”. Tapi nyatanya anak ini bisa.

Ternyata..
Memang di tangan Allah lah solusi segala masalah itu.

Teringat lagi pada seorang anak lain. Anak dari guru di sekolah.
Anak ini terlahir dengan kepala yg ‘hancur’. Kondisinya sungguh sangat mengerikan. Dibutuhkan operasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa anak ini. Saat itu, semua orangtua murid gotong royong mengumpulkan donasi buat bayi bu guru tsb. Dengam biaya sekian puluh juta, akhirnya operasi itu berhasil juga ditunaikan. Alhamdulillah.

Pasca operasi itu, sy berpikir, mgkn anak ini akan tumbuh sbg anak dengan ‘special needs’, mengingat betapa besar kerusakan otak yg dialaminya sewaktu lahir. Tapi ternyata tidak.

Beberapa tahun pasca operasi itu, sy berbincang dengan ibunya. Menanyakan ttg tumbuh kembang anaknya. Dan si ibu bercerita dengan penuh rasa syukur ttg anaknya. Si anak yg tumbuh normal. Tidak ada masalah perilaku atau masalah serius lainnya. Malah, ia tampak pintar. Sama pintarnya dengan anak2 lain. Wah, kok bisa?

“Ga tau bu. Semua ini mukjizat dari Allah. Beneran. Ini mukjizat. Sy juga ga menyangka anak saya bisa sama spt anak-anak lainnya”

Subhanallah.

Benar bu guru. Memang di tangan Allah lah segala jalan kesembuhan itu. Di tangan Allah pula kita bisa menitipkan jiwa-jiwa anak kita.

Tidak ada anak yg tidak bisa ‘sembuh’.
Baik itu sembuh dari masalah yg muncul sejak kelahiran,
Maupun sembuh dari masalah yg muncul dari pergaulan: Pornografi. Narkoba. Atau kecanduan gadget.
Bisa. Anak-anak bisa disembuhkan.

Kuncinya satu:
Mintalah pada DIA Sang pemilik segala kesembuhan.
Mintalah pada-Nya, untuk ditunjukkan jalan-jalan.

Dan jangan lupa,
Pada Allah lah kita titipkan jiwa-jiwa anak ini.

Jadi, bukan kesembuhan yg menjadi tujuan kita, tapi jiwa-jiwa anak yg tumbuh sesuai kehendak Allah, itulah tujuan kita.
Untuk itu… yg harus berubah pertama kali bukan dia. Bukan anak kita.

Tapi kitalah yg sebenarnya harus berubah.

Kembalilah pada Allah. Kembalilah pada Allah. Berlarilah menuju Allah.
Fafirruuu ilallaaah…

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar”. Ath-Thalaq : 2

================================

Tulisan ini ditulis oleh seorang teman di status fb nya,kisah pertama adalah  kesannya tentang Daffa, yg bliau kenal sejak bayinya hingga pra baligh spt sekarang ini…

Terima kasih Ika, sdh menuliskan dengan apik runtutan perjuangan itu. Setiap masa ternyata ada ujiannya.
Meski sepertinya Daffa sdh tidak menunjukkan gejala autistik lagi, tugas belumlah selesai….
Mendampingi anak pra baligh ternyata lebih jungkir balik, terutama karena kami masih miskin ilmu begini…
Namun tulisan ini sangat menentramkan hati, bahwa ada Allah pemilik segala jalan, bahwa sesudah kesulitan selalu ada kemudahan…

Tulisan Ika ini sengaja tidak aku Share di fb, selain karena aku malu (aku bukan orang tua yang sesukses itu), aku juga ingin menyimpannya disini, diantara bertahun-tahun kisah Daffa yang tercatat di sini…
Ini blog yang mati suri memang, karena entah bagaimana aku seperti kehabisan kata dalam tahun2 terakhir.
Berkutat dengan kegiatan harian, tak sempat menulis kesan. Dan sungguh, bisa menulis itu sebuah keberkahan
Semoga Allah memberkati orang orang yang dengan tulisannya mampu menggetarkan hati…

Dan tulisan yang satu ini, ditulis dengan kehangatan hati, penuh hikmah, menjadi pengingat bahwa pernah ada masa-masa sulit yang telah terlewati, dan akan ada lagi masa2 sulit di hari nanti, tapi yang pasti, selagi kau ikhtiar maksimal, berdoa maksimal,tak pernah lepaskan pegangan tanganmu pada tali Allah, maka tak ada yang perlu kau khawatirkan…
InsyaAllah.

Dan..
Hei bunda Daffa, setiap kali kau melihat anakmu bertindak tidak seperti yang kau harapkan dihari2 ini..
Ingatlah hari hari kemaren ketika kau berpikir, dia bisa memanggilmu “mama”  saja adalah segalanya bagimu…

Dont expect too much
But love him very much.

Penulis:

Just an ordinary woman in extraordinary family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s